Foto: Dok. Media Istiqlal

Kajian Malam Jumat: Mendalami Bacaan Basmallah, Memahami Makna Asma Allah

Admin 03 Jul 2023 Warta Istiqlal

Oleh: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A



Jakarta, www.istiqlal.or.id - Rabbun adalah bentuk mufrad dan arbabun adalah jamaknya. Ilahun adalah bentuk jamak dari aliha, maka hanya kata Allah yang tidak memiliki bentuk jamak dan satu-satunya huruf yang bersifat mufrad (tunggal).

Dalam Atta’ayanul awwal, kata Allah disebut sebagai Ahadiyah (bersifat Secret of The Secret), sedangkan Rabbun dan Ilahun disebut sebagai Wahidiyah. Apa perbedaan antara Ahadiyah dan Wahidiyah?

Ahadiyah adalah sifat Tuhan yang tidak ada duanya (Esa)/(Secret of The Secret), yang berada dalam entitas Al-A’yanul Kharijiyah (external entity), sedangkan Wahidiyah adalah sisi Tuhan yang mengenalkan diri daripada selainNya (The Secret One) sebagai Rabbun ataupun Ilahun, yang berada dalam entitas Al-A’yanul Tsabita. Namun keduanya tetap berada pada entitas Al-Hadratul Ilahi. Contoh dari kalimat Ahadiyah adalah Allahu Ahad bukan Allahu Wahid, sedangkan kalimat Wahidiyah adalah Ilahun Wahid. Karena kata Wahidiyah bukanlah lafadz Jalaliyah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam QS. Al-Baqarah ayat 163:

وَاِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ  لَآاِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ ࣖ

Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah  [2]:163)

Maksud ayat tersebut ditujukan kepada sisi Allah yang berada di dalam ta’ayyanul asma (Al-Hadratul Tsaniy). Dimana Allah ingin mengenalkan diri ke dalam ciptaan-Nya, seperti alam semesta beserta isinya.

Allah merupakan sumber dari segala rahasia yang tercipta di muka bumi ini. Melalui nama-nama Allah disebut Asma, kita dapat mengenal diri-Nya sebagai pencipta. Karena untuk mengenal-Nya secara langsung merupakan hal yang mustahil diterima oleh akal. Maka perintah Allah adalah iqra bismirabbi yaitu bismillahirrahmanirrahim.

Seluruh alam semesta ini merupakan wujud dari Asma Allah yang baik (Asmaul Husna), seperti bentuk gunung yang besar (Al-Kabir (Maha Besar)), pantai dengan laut yang membentang (Al-Waasi’ (Maha Luas)), bintang yang berada di langit (Al-Aliiy (Maha Tinggi)), besi yang keras (Al-Aziz (Maha Keras)), dan lain sebagainya. Jadi, apabila kita sudah mencapai tingkat ma'rifat yang tinggi, maka kita akan memahami bahwa segala sesuatu yang kita saksikan dimuka bumi ini adalah implementasi daripada Asmaul Husna.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 115, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ  فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Hanya milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah  [2]:115)

Disamping itu, Asmaul Husna juga dijadikan sebagai media untuk memahami bahwa Allah bukan hanya sebagai Al-Khaliq (Maha Pencipta), melainkan juga sebagai Al-Wahab (Maha Pemberi), Al-Hadi (Maha Petunjuk), dan Al-Mudhil (Maha Menyesatkan). Hal ini dibuktikan dengan terciptanya suatu makhluk sebagai objek untuk mengimplementasikan sifat-sifat atau nama-nama Allah yang lainnya.

Berbeda dengan sifatnya yang Maha Memberi Petunjuk, Allah juga memiliki sifat Maha Menyesatkan. Seperti dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya, jika kalian tidak berbuat dosa Allah akan hilangkan kalian dan Allah akan datangkan kaum lain yang berdosa, lalu mereka pun minta ampun kepada Allah, Allah pun ampuni dosa mereka.” (HR. Imam Muslim 2.749)

Dihadirkannya makhluk berdosa untuk membuktikan bahwa Allah itu Ash-Shamad (Maha Sempurna). Nabi Musa, Fir’aun dan Siti Asiah adalah kisah nyata sebagai bukti bahwa Allah itu Al-Hadi juga Al-Mudhil.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS. Aż-Żāriyāt [51]:49)

Kehidupan berpasangan itu bukti dari kesempurnaan Allah. Karena tidak mungkin kita merasakan indah dan nikmatnya surga, tanpa ada pembanding neraka ataupun sebaliknya. Jadi itulah hikmah dari kehidupan berpasang-pasangan yang Allah ciptakan, bukan kehidupan yang bertentangan satu sama lain. Agar kita senantiasa mengingat akan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala.

Kisah Siti Asiah ini telah Allah tuliskan ke dalam QS. At-Tahrim ayat 11, yang berbunyi:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا امْرَاَتَ فِرْعَوْنَۘ اِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَۙ

Artinya: “Allah juga membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, yaitu istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam surga, selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (QS. At-taḥrīm [66]:11)

Dalam ayat tersebut dapat kita lihat bagaimana tingkat keimanan Siti Asiah terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan ketika dihadapkan dengan dua orang yang paling berbeda karakternya sekalipun, ia tetap mampu bersikap dengan baik dengan cara merawat keduanya tanpa membeda-bedakannya. Dimana ia memposisikan dirinya sebagai istri dari Fir’aun dan ibu bagi Nabi Musa as. Siti Asiah adalah gambaran bahwa seseorang yang sudah sempurna imannya, maka ia tidak lagi membedakan antara penderitaan dan kenikmatan. Sebab keduanya merupakan bentuk kasih dan sayang dari Allah subhanahu wa ta’ala, agar ia tidak perlu merasakan penderitaan lagi di akhirat kelak. Jika setiap orang memahami hikmah dibalik musibah yang diberikan, niscaya mereka akan selalu bersyukur. (ZSQ/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.