Kitab Al-Hikam Ibn ‘Athoillah Assakandary)
Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiry, Lc, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Butiran Hikmah dalam Kitab AlHikam karya Ibn ‘Athoillah pada bahasan kajian Qabla Jumat hari ini:
ليخفف الم البلاء عنك علمك با نه ـ سبحانه ـ هو المبلي لك، فالذي واجهتك منه الاقدار هو الذي عودك حسن الاختيار
"Agar ujian terasa ringan, kamu harus mengetahui bahwa Allah-lah yang memberimu ujian. Dzat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Dzat yang selalu memberimu pilihan terbaik.”
Kita dalam hidup ini pasti pernah mendapat cobaan dari Allah subhanahu wa taala itu yang disebut dengan bala, kadang kita sebut musibah atau fitnah, fitnah juga bisa berarti musibah, ujian atau ibtila dalam al-qur'an juga Allah subhanahu wa taala berfirman dalam QS. AlBaqoroh/2:155,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: "Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar," (QS. Al-Baqarah [2]:155)
Bahwa Allah itu akan menguji hamba-hambanya kadangkadang ujian itu berupa kelaparan kekurangan makan, krisis pangan, kadang kekurangan uang untuk mencukupi kebutuhan kita, karena kekeringan sehingga kita gagal panen sehingga buah-buahan menjadi langka, Itu semua adalah bala, cobaan dari Allah subhanahu wa taala, sakit adalah cobaan, musibah kecelakaan adalah cobaan.
Bagaimana supaya kita bisa menyikapi hal ini? jangan sampai kita ketika diuji oleh Allah subhanahu wa taala diberi cobaan dan diuji kita tidak lulus cobaan dan ujian tesrsebut, manakala kita bisa mengatasinya maka berarti kita lulus, seperti halnya kita di bangku sekolah atau bangku kuliah kita lulus berarti kita naik derajat kita, lulus artinya apa? kita bisa mensikapinya dengan baik, kita tetap sabra, kita tetap istiqamah beriman pada Allah subhanahu wa taala, bertakwa, ibadah kita tidak berkurang walaupun kita ditimpa musibah, bahkan seorang muslim yang sejati ketika ada musibah, ketika sedang dicoba oleh Allah subhanahu wa taala maka dia akan semakin dekat dengan Allah subhanahu wa taala.
Dalam QS. AlMulk/67 ayat 1-2 Allah subhanahu wa taala berfirman:
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
(1) تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ (2) وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
Artinya: "Maha Berkah Zat yang menguasai (segala) kerajaan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk [67]: 1-2)
Semua cobaan adalah untuk menguji kita, karena setelah akan diketahui sesiapa diantara kita yang tetap berbuat baik, karena ada orang yang ditimpa musibah atau bala kemudian dia murtad, atau minimal imannya menipis, takwanya berkurang, sehingga mengira Allah itu tidak adil, kadang saya mendengar ketika ada seseorang yang sedang ditimpa musibah, dia bilang bahwa Allah tidak adil, na’udzubillahi Jangan sampai kita katakan itu! Sekiranya Allah tidak adil? lalu siapa yang adil? siapa yang akan kita anggap adil selain Allah subhanahu wa taala?
Allah subhanahu wa taala saat menginginkan sesuatu kebaikan bagi hambanya maka akan diuji dulu, kalau dia lulus berarti dia akan naik derajatnya, bukankah kita membaca kitiab sirah al-anbiya yang berisi kisah para nabi dimana para nabi itu penuh dengan cobaan, karenanya dikatakan ‘asaddul bala Al Anbiya’ orang yang paling banyak ditimpa musibah, ditimpa cobaan dan bala itu adalah para Nabi.
Dalam AlQuran dan juga kitab Sirah Nabawiyah dari Nabi Adam dar awal penciptaan sudah diuji oleh Allah subhanahu wa taala ketika sedang berada di surge, diberi ujian agar tidak mendekati pohon dan buah khuldi, akhirnya terjadi pelanggaran, kemudian ketika sampai di bumi, punya anak Qabil dan Habil terjadi pembunuhan, dari itu manusia akan selalu diuji oleh Allah subhanahu wa taala.
Kisah Nabi Yusuf alaihissalam, bagaimana Nabi Yusuf diuji, ayahnya Nabi Yakub juga diuji, dengan keadaan anakanaknya dan saudara-saudaranya, Nabi Yusuf AS dimasukkan ke sumur dan akhirnya ditemukan oleh kafilah pedagang yang sedang melewat, Nabi Yusuf yang masih bocah menjadi budak dan dijual, ini adalah ujian dan pada akhirnya Nabi Yusuf dia dipercaya sebagai bendahara di kerajaan Firaun saat itu, inilah proses yang kemudian menjadikan Nabi Yusuf matang karena dia sukses menjalani ujian ini dengan penuh kesabaran.
Nabi kita, Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam kita tahu dalam sejarahnya, dalam biographinya dalam kitab sirah nabawiyah bahwa beliau ayahnya meninggal ketika berada di kandungan dan ibunya meninggal ketika beliau masih bayi masih kecil, kemudian dipelihara oleh pamannya begitu banyak kisah-kisah penderitaan dalam sejarah hidup beliau nabi kita Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam itu ternyata adalah proses pematangan peribadi, karena beliau akan dijadikan Seorang Nabi terakhir, Khotamunnabiyyin, penutup para Nabi.
Maka itulah ketika Allah subhanahu wa taala memberikan satu cobaan kepada kita itu adalah yang sebenarnya termasuk kehormatan bagi manusia, bagi seseorang yang mendapat ujian dan cobaan, dan menjadi kesempatan berharga untuk melatih diri menjadi sabar, untuk kemudian dia mendapatkan derajat yang tinggi dari Allah subhanahu wa taala. Dalam QS. Al-Ankabut/29 ayat 2, Allah subhanahu wa taala berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
(QS. Al-‘Ankabūt [29]:2)
Apakah orang-orang itu mengira, begitu mereka mengatakan aku beriman kemudian dibiarkan begitu saja? ternyata tidak, setiap mukmin, setiap orang yang mengaku dirinya mukmin, yaitu orang-orang yang beriman dan mengatakan aku beriman pada Allah subhanahu wa taala, beriman pada nabi-nabi Allah dan rukun iman yang ke enam itu,mak, untuk membuktikan keimanan kita bahwa kita benar-benar beriman dan sekokoh apa iman kita itu? Maka didatangkan fitnah-fitnah, silih berganti bala, musibah, dan lain-lain.
Ada fitnah dari pihak lain, ada macam-macam semua itu adalah ujian, agar kita semakin mendekat kepada Allah subhanahu wa taala karena baik buruk yang kita alami di dunia ini adalah atas kehendak Allah subhanahu wa taala, dan itulah yang terbaik bagi kita menurut pandangan Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus yakini bahwa yang terjadi pada diri kita ini adalah kehendak Allah subhanahu wa taala dan ketika kita sebagai seorang mukmin yang sejati kemudian kita sadar bahwa yang terjadi pada diri kita adalah kehendak Allah subhanahu wa taala, tidak ada lain kecuali kita sabar dan kita akan merasakan pedihnya musibah itu akan semakin ringan dan berkurang karena kita sudah meyakini Dzat yang Maha Berkehendak yang kita tidak meragui-Nya sedikitpun.
Inilah yang menjadi pembeda seorang mukmin dengan orang-orang yang tidak beriman, ketika ditimpa musibah, ketika dia gagal dalam pekerjaan, dia merasa bahwa dia yang paling bertanggung jawab sehingga dia malu dengan masyarakat, dengan tetangga, sehingga dia akan berputus asa dan sampai mengakhiri hidupnya, misalnya.
Orang-orang yang beriman ketika merasakan satu kegagalan, anggaplah bahwa ini berarti masih perlu perjuangan yang lebih besar, perjuangan yang lebih hebat, sehingga Allah subhanahu wa taala akan berikan kesuksesan dan keberhasilan di masa akan datang.
Janganlah mengikuti kebiasaan-kebiasaan buruk seperti zaman jahiiyah dahulu yang menggantungkan hidup dan nasib ini dengan thiyarah, apa yang dimaksudnya thiyarah? sebagaimana dalam sebuah hadist Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, ikuti kelanjutan Kajian ini pekan-pekan selanjutnya, semoga mengkokohkan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa taala, in shaa Allah. (Bersambung).
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.