Foto: Dok. Media Istiqlal

Imam Besar Masjid Istiqlal Inisiasi Kerjasama Internasional dengan Masjid Istiklal Sarajevo

Admin 22 Mar 2021 Warta Istiqlal

Jakarta, www.istiqlal.or.id- Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA didampingi Wakabid Riayah, Ir. Her Pramtama, MT, IAI, menghadiri pertemuan daring bersama pihak Masjid Istiklal Sarajevo, Ibu Kota Bosnia-Herzegovina, dalam rangka menginisiasi kerjasama internasional tentang perkembangan peran masjid untuk umat di masa yang akan datang, pada Sabtu (20/3/2021).

Dalam pertemuan yang dilangsungkan melalui aplikasi Zoom Meeting ini, pihak Masjid Istiklal Sarajevo dihadiri oleh Imam Masjid Istiqlal Sarajevo, Ahmet Skopjlak dan didampingi oleh Duta Besar Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina, Drs. Roem Kono.

Inisiasi mengembangkan peran rumah ibadah khususnya masjid itu, didasari pada inspirasi melihat masjid pada zaman Nabi Muhammad SAW, yang menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah maghdah, melainkan juga menjadi pusat perekonomian, pemberdayaan, pendidikan bagi umat.

"Kita mencontoh tempat ibadah Nabi, yang menjadi baitul mal, zakat, shadaqah, jual-beli, pemberdayaan umat semua ada di masjid, masjid Nabi juga digunakan sebagai balai pertemuan, pelatihan perang, kantor pengadilan, lembaga pendidikan bagi anak-anak, sebagai wadah pelatihan keterampilan, ataupun untuk tempat pengobatan masyarakat, semua kegiatannya dikumpulkan di masjid," ujar KH. Nasaruddin Umar, Sabtu (20/3/2021).

Selanjutnya, menara masjid pada zaman Nabi juga difungsikan untuk mengontrol kesejahteraan sebuah keluarga pada suatu rumah. "Lewat menara masjid, bisa dilihat mana rumah yang tidak berasap dapurnya, mana yang berasap dapurnya, sehingga bisa tahu mana keluarga yang kaya dan miskin, dan pihak masjid bisa langsung datang untuk membantu," papar Imam Besar Masjid Istiqlal.

Diinisiasinya gagasan ini, ialah sebagaimana yang Allah firmankan pada Qs. Ali Imran ayat 110, yang menjadikan umat manusia sebagai umat terbaik yang selalu mengerjakan kebaikan, dan menjauhi kemungkaran.

Firman Allah pada Qs. Ali Imran:110, artinya sebagai berikut.

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Qs. Ali Imran: 110).

"Dengan adanya hal ini, insya Allah kedepan Masjid Istiqlal di Indonesia dan Masjid Istiklal di Sarajevo bisa menjadi kiblat masa depan untuk menghadirkan kemerdekaan umat Islam, dan menghapus keterbelakangan," harap KH. Nasaruddin Umar.

Sebagai wujud bukti bahwa Masjid Istiqlal terinspirasi pada konsep peran masjid di zaman Nabi, KH Nasaruddin Umar menyebutkan, dalam program The New Istiqlal,  Masjid Istiqlal sudah membuka banyak program baru.

Diantaranya Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dan Pendidikan Kader Ulama Perempuan Masjid Istiqlal (PKUPMI), Marching Band, Band Masjid Istiqlal sebagai wadah kreasi anak muda, Terowongan Toleransi antara Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, wisata spiritual yang diharapkan akan dikunjungi oleh turis nasional maupun internasional, juga toko UMKM untuk mengembangkan ekonomi umat.

Dengan rasa bersyukur atas kesempatan bersilaturahmi meski berada ditengah kondisi pandemi Covid-19, KH Nasaruddin Umar berharap, bahwa kehadiran Masjid Istiklal di Bosnia-Herzegovina atau Masjid Istiqlal di Indonesia, menjadi pusat pemberdayaan umat Islam dan warga masyarakat setempat, dan hubungan antara Bosnia-Herzegovina dengan Indonesia bisa semakin erat.

"Kami harap nantinya (Allah  bisa izinkan kami untuk berkunjung) ke Istiklal di Sarajevo, dan Imam Besar Istiklal Sarajevo bisa berkunjung ke Masjid Istiqlal di Indonesia," harap KH Nasaruddin Umar.

Menanggapi Imam Besar Masjid Istiqlal, Imam Masjid Istiklal Sarajevo, Ahmet Skopjlak, menyampaikan bahwa Masjid Istiklal di Sarajevo juga sudah menerapkan konsep peran masjid seperti pada zaman Nabi Muhammad, dimana pada setiap harinya, masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai tempat pelatihan pendidikan yang diadakan secara gratis.

"Kami juga memandu imigran dari negara jauh, seperti Afrika atau negara Timur Tengah, kami mendatangi imigran tersebut dan memandunya, dan jika dibutuhkan, kami mengantarnya ke depan rumah-rumah mereka," jelas Imam Ahmet.

Dengan adanya pertemuan ini, Imam Velic juga merasa tersanjung karena bisa bertemu dan berbincang bersama pihak Masjid Istiqlal di Indonesia. Mengingat sejarah dibangunnya Masjid Istiklal Sarajevo adalah sebagai simbol persahabatan antara Indonesia dengan Bosnia-Herzegovina yang diresmikan pada 2001.

"Masjid Istiklal Sarajevo juga dikenal sebagai kenang-kenangan sumbangan dari masyarakat Indonesia, meski lingkungan kita sangat jauh dan terpaut waktu 6 jam, tapi hati kami nampak dekat dari masjid Istiqlal di Indonesia," ujar Imam Ahmet.

"Kami sangat terharu karena simbol persaudaraan antara dua negara ini (Bosnia-Herzegovina dan Indonesia) adalah masjid, dimana masjid juga bisa menjadi simbol dari kesatuan iman kita," lanjut Imam Ahmet.

Untuk dapat diketahui, bahwa pembangunan masjid Istiklal di Sarajevo ini dipraksarai oleh Presiden RI ke-2, Soeharto dalam kunjungannya ke Sarajevo pada Maret 1995. Saat itu, Soeharto mempertimbangkan untuk membangun masjid sebagai hadiah untuk orang-orang Bosnia dan Herzegovina yang sedang berada di tengah-tengah peperangan.

Pada pembangunan masjid ini, Soeharto menunjuk seorang arsitek bernama Fauzan Noe?man untuk mendesain Masjid Istiqlal Sarajevo. Hadirnya kesan Indonesia pada bangunan masjid dapat dilihat pada pintu masjid yang menggunakan kayu jati asli asal Japara, Indonesia, dan kemudian dibawa menggunakan kapal ke Bosnia-Herzegovina. Selain itu, pada mihrab imam dan mushaf kitab juga dibawa langsung dari Indonesia.

Dalam hal lain, Imam Velic menyampaikan bahwa dirinya sangat terinspirasi pada kerukunan yang terjalin di Indonesia, sehingga beliau juga ingin berupaya mengembangkan kerukunan umat di Bosnia-Herzegovina. "Mengingat kerukunan yang terjalin dari berbagai suku dan agama di Indonesia, kami berharap bisa belajar untuk hidup dalam keberagaman seperti di indonesia."

"Beberapa belas tahun kebelakang, kami masih terus berusaha untuk mengembangkan kerukunan umat beragama yang merupakan misi Islam dari zaman Rasulullah (dalam membimbing seseorang pada agama yang Allah ridai, Islam) tanpa memaksa seseorang dalam memeluk Islam," jelas Imam Ahmet.

Tak tertinggal, Imam Ahmet juga mengundang KH. Nasaruddin Umar untuk datang ke Masjid Istiklal Sarajevo Bosnia-Herzegovina, dan mengisi khutbah bagi masyarakat sekitar, serta bertemu dengan para ulama di Bosnia.

Berikutnya, Duta Besar Indonesia untuk Bosnia dan Herzegovina, Drs. Roem Kono, sangat mengapresiasi pertemuan daring ini, dan  menyetujui rencana diadakannya pertemuan antara institusi kelembagaan Bosnia-Herzegovina dan Indonesia, dengan mempertemukan Imam Masjid Sarajevo dan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar.

Roem Kono berharap antara kerjasama ini, kedepannya Bosnia-Herzegovina dan Indonesia bisa terus membangun silaturahmi, terutama dalam bertukar pemikiran. "Perteman hari ini adalah suatu pencerahan luar biasa, dan bisa jadi pintu masuk kebersamaan kedepannya," ujarnya.

"Saya selaku Duta Besar, sangat mengapresiasi, dan berharap bahwa pertemuan ini bisa dilanjutkan, sehingga gagasan bapak (KH Nasaruddin Umar) bahwa imam masjid di Bosnia-Herzegovina, bisa jadi suatu program penguatan secara kelembagaan masjid keduniaan yang akan dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta," ujar Roem Kono.

Menanggapi keterangan Roem Kono, KH Nasaruddin Umar juga berharap bahwa nantinya Masjid Istiklal Sarajevo dan Masjid Istiqlal Jakarta bisa menjadi pionir untuk membuka gerbang persaudaraan antara dua benua, yaitu Eropa dan Asia.

"Harapan kami di masa depan supaya bisa digagas, di bawah pimpinan Bapak Roem Kono, antara Asia dan Eropa, yaitu diwakili oleh Bosnia-Herzegovina dan Indonesia, kami bisa jadi satu kesatuan yang dipraksarai Istiqlal, Indonesia dan Istiklal, Sarajevo," pinta KH. Nasaruddin Umar.

Hal itu seperti firman Allah pada Qs. Al Baqarah ayat 115 yang artinya sebagai berikut:

"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Qs. Al-Baqarah ayat 115).

Dengan adanya hubungan persaudaraan antara Eropa dan Asia, diharapkan kedua benua ini memiliki hubungan yang paralel, dan stabil, sehingga meminimalisir konflik yang terkadang terjadi antara suatu negara karena perbedaan ras dan agama.

"Indonesia atau Bosnia-Herzegovina punya power untuk menawarkan persaudaraan antara Eropa dan Asia, hal ini guna memperkecil paradigma yang berbeda antara Timur dan Barat, memperkecil adanya konflik karena berbedanya etnik dan agama, ini gagasan kemanusiaan yang mulia," ucap KH. Nasaruddin Umar.

"Kalau disini (Jakarta) kami membangun jembatan terowongan tolenransi antara Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal, bapak Roem Kono bisamengagas jembatan persaudaraan antara benua Timur dan Barat," ungkap KH. Nasaruddin Umar.

Dengan mengingat hal itu, Dubes Roem Kono sangat mengapresiasi gagasan KH Nasaruddin Umar dan berdoa semoga Allah senantiasa mudahkan langkahnya dalam mengemban tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Bosnia-Herzegovina.


Penulis: Nurul Fajriyah

Editor: Nur Khayyin Muhdlor

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.