Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Wahai anakku, Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Indah telah menjadikan indah dirimu dimata orangtua, menjadikanmu salah satu harta yang paling berharga, menjadikanmu salah satu kesenangan hidup di dunia yang fana ini.
Semua yang fana akan kembali kepada-Nya, dan semua manusia menginginkan tempat yang terbaik di sisi-Nya ketika ia kembali kepada Tuhannya. Allah subhanahu wata'ala berfirman: “Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (QS. Ali 'Imran/3: 14).
Maka, sudah sepantasnyalah para orangtua bersyukur terhadap anugerah Allah subhanahu wata'ala atas kehadiranmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Para orangtua dilarang untuk bertindak kasar kepada anak-anak, menghukum anak-anak dengan hukuman yang terlalu keras, orangtua dilarang melakukan kesewenang-wenangan kepada anak-anaknya.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orangtua untuk berbohong kepada anaknya, sabdanya: “Sesungguhnya kebohongan itu tidak pantas dilakukan dengan sungguh-sungguh atau sekedar untuk main main, (seperti) seorang ayah yang berjanji kepada anaknya, namun janji itu tidak dipenuhinya” (HR. Al-Hakim). Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berkata kepada anak kecil, “Datanglah kesini, ambil ini”, tetapi kemudian ia tidak memberikannya, (padahal anak tersebut sudah mendatanginya), maka itu termasuk perbuatan dusta (berbohong)” (HR. Ahmad).
Wahai anakku, aku ingin engkau termasuk orang-orang yang diselamatkan Allah subhanahu wata'ala seperti anak-anak Nabi Nuh alaihis salam bersama golongan mukmin yang pada waktu itu diselamatkan Allah subhanahu wata'ala dan menaiki kapal, bukan menjadi seperti anak yang menolak menaiki kapal, sehingga termasuk ke dalam orang-orang yang durhaka kepada Allah subhanahu wata'ala.
Dalam Al-Qur’an dikisahkan: “Dia (Nuh) berkata, “Naiklah kamu semua ke dalamnya (bahtera) dengan (menyebut) nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya! Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung-gunung. Nuh memanggil anaknya, sedang dia (anak itu) berada di tempat (yang jauh) terpencil, “Wahai anakku, naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir”. Dia (anaknya) menjawab, “Aku akan berlindung ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air (bah)”. (Nuh) berkata, “Tidak ada penyelamat pada hari ini dari ketetapan Allah kecuali siapa yang dirahmati oleh-Nya”. Gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah dia (anak itu) termasuk orang-orang yang ditenggelamkan” (QS. Hud/11: 41-43).
Wahai anakku, ketahuilah bahwa ketika Nabiyullah Ibrahim alaihis salam diperintahkan Allah untuk tunduk patuh kepada Allah subhanahu wata'ala, beliau menyambut perintah itu dengan berserah diri, tunduk dan patuh kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an dinyatakan: “(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!”, ia (Ibrahim) menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Baqarah/2: 131). Kami orangtuamu sangat ingin mengikuti jejak beliau, menjadi hamba-Nya yang tunduk patuh, dan berserah diri hanya kepada Allah subhanahu wata'ala. Dan kami orangtuamu juga mengharapkan anak-anaknya mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim alaihis salam. “Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya‘qub, “Wahai anak anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada Nya kami berserah diri” (QS. Al-Baqarah/2: 132-133).
Kami orangtuamu mengikuti jejak Nabiyullah Ibarahim alaihissalam, dan berwasiat kepadamu wahai anakku untuk tetap dalam iman dan Islam, serta menyembah hanya kepada Allah subhanahu wata'ala sepeninggal kami.
Wahai anakku, aku juga ingin berpesan dan memberi nasihat kepadamu, seperti Luqman yang berpesan kepada anaknya dengan berkata: “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman/31: 13).
Maka, jangan sekali-kali kamu wahai anakku, berpaling dari agama Allah, membuat sesembahan selainnya, ikutilah teladan Nabi-Nya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur’an: “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali. Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak punya ilmu tentang itu, janganlah patuhi keduanya, (tetapi) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian, hanya kepada-Ku kamu kembali, lalu Aku beri tahukan kepadamu apa yang biasa kamu kerjakan. “Wahai anakku, sesungguhnya jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan menghadirkannya (untuk diberi balasan). Sesungguhnya Allah Mahalembut (ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu, betapapun kecilnya) lagi Mahateliti. Wahai anakku, tegakkanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang (harus) diutamakan” (QS. Luqman/31:13-17).
Wahai anakku, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang beriman, tunduk dan patuh pada perintah Allah subhanahu wata'ala, mengikuti jejak dan teladan Rasul-Nya, dan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan dunia dan akhirat, serta mendapatkan nikmat dan balasan surga. Aamiin. Wallaahu a’lamu bish-shawab. (RST/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.