(Refleksi Awal Tahun Hijriah)
Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Saat tahun berganti dan kalender Hijriah membuka lembaran baru, kita menyambutnya dengan doa, harap, dan perenungan. Dalam riuh gema sambutan tahun baru, mungkin tak semua nama disebut, tak semua sosok diundang berbicara.
Ada wajah-wajah yang luput dari sorotan, ada jiwa-jiwa yang tak tercatat dalam catatan dunia. Namun, mereka tetap mengangkat tangan dan berbisik dalam sujud panjang: “Ya Allah, dengan keberkahan Nabi-Mu, perhatikanlah kami. Bukan hanya mereka yang berkedudukan tinggi dan memiliki ilmu yang menyembah-Mu. Kami juga hamba-hamba-Mu yang tidak dikenal, yang menyembah-Mu semampu kami, dan merindukan untuk menjadi bagian dari umat Nabi-Mu, Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam.”
Awal tahun Hijriah bukan sekadar pergantian waktu, tetapi undangan spiritual untuk memperbaharui iman, memperdalam keikhlasan, dan menata kembali langkah menuju Allah. Momen ini adalah titik tolak bagi hamba-hamba yang selama ini merasa kecil, biasa saja, namun tetap menggenggam cinta dan pengharapan yang besar. Kita mungkin tidak termasuk barisan tokoh besar, tapi kita juga menyembah-Mu, ya Allah.
Allah Subhaanahu wa Ta’ālā berfirman: “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (QS. Al-Ḥujurāt \49: 13).
Tahun baru bukan ajang memamerkan pencapaian dunia, melainkan mengukur sejauh mana kita bertakwa dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian” (HR. Muslim).
Hadits ini seperti cahaya bagi jiwa-jiwa yang merasa kecil. Ia memuliakan setiap sujud yang dilakukan dalam kesunyian, setiap air mata yang jatuh dalam tobat, dan setiap doa dari hamba yang tak dikenal bumi, tetapi dikenal oleh langit.
Bahkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhārī). Betapa sering kehidupan kita diselamatkan oleh doa dari mereka yang tak tampak di panggung, namun menjadi tamu agung di hadapan Allah.
Tahun baru juga adalah waktu menguatkan cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan jika kita belum banyak amal, namun kita mencintainya, maka harapan itu tetap ada. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya" (HR. Bukhārī dan Muslim)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa cinta sejati kepada Rasul ﷺ dapat menjadi penghubung kita dengan beliau, walaupun amal kita belum sempurna. Maka mari kita perbarui niat dan cinta kita di awal tahun ini—bukan hanya sebagai formalitas, tetapi sebagai gerak ruhani menuju maqām yang diridhai.
Sebagaimana dikatakan Ibn ‘Aṭhā’illāh dalam al-Ḥikam: “Jangan meremehkan sedikitnya amal, karena cukup bagimu bahwa engkau berdiri di hadapan-Nya sebagai hamba.” Tahun ini, kita tidak perlu menunggu menjadi tokoh besar atau memiliki pengaruh luas untuk dekat dengan Allah. Cukuplah kita istiqamah dalam shalat, ikhlas dalam sujud, dan jujur dalam cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Karena kami pun, ya Allah... juga menyembah-Mu. Dan kami pun memohon di awal tahun ini: “Maka ampunilah umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sayangilah umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan lapangkanlah kesulitan yang menimpa umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”
Semoga Muharram ini membuka lembaran baru untuk kita, bukan dengan pujian dari manusia, tapi dengan perhatian dari langit. Dan semoga setiap amal, meski kecil dan sederhana, diterima sebagai tanda cinta kita kepada-Nya dan Rasul-Nya. Aamiin. Wallaahu’ A’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.