Oleh : KH. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc., MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam khazanah Islam, Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah, melainkan sebagai peristiwa multidimensional yang mencerminkan totalitas kepatuhan kepada Tuhan, solidaritas kemanusiaan, dan keadilan sosial. Di Nusantara, ia dikenal sebagai “Lebaran Qurban” atau “Lebaran Haji”, sementara dalam tradisi Arab disebut ‘Id al-Kabīr (hari raya besar), merujuk pada kebesaran nilai yang dikandungnya.
Secara historis dan teologis, Idul Adha merujuk pada peristiwa monumental Nabi Ibrahim alaihis salam yang diperintahkan untuk mengorbankan putranya Ismail alaihis salam Perintah ini, meskipun akhirnya diganti dengan seekor domba, menjadi simbol ketundukan mutlak dan pengorbanan tanpa syarat demi ketaatan kepada Allah. Kisah ini menegaskan bahwa makna pengorbanan dalam Islam bukanlah kekerasan atau penghilangan nyawa manusia, melainkan penaklukan ego dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur.
Idul Adha juga tidak terlepas dari konteks ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah yang menjadi puncak spiritual perjalanan haji. Di sana, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan Khutbah al-Wadā’ (khutbah perpisahan) yang sarat dengan prinsipprinsip etika universal: kesetaraan manusia tanpa memandang ras dan status sosial, perlindungan atas darah dan kehormatan, serta tanggung jawab terhadap kelompok rentan.
Sabda Nabi, “Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, tidak pula yang berkulit merah atas yang hitam, kecuali karena takwa,” adalah deklarasi egalitarian paling fundamental dalam sejarah manusia. Di era kontemporer, semangat Idul Adha harus direfleksikan ulang dalam konteks sosial kita saat ini. Pengorbanan bukan lagi sebatas penyembelihan hewan, tetapi pengorbanan egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap penderitaan sesama.
Intelektual Mesir Jamal al-Banna pernah menyatakan, “Sesungguhnya jihad hari ini bukanlah mati di jalan Allah, tetapi hidup di jalan Allah”. Ini adalah ajakan untuk menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata: kejujuran, keadilan, pelayanan sosial, dan keberpihakan terhadap kelompok tertindas.
Salah satu kelompok yang sering terabaikan dalam agenda sosial adalah para penyandang disabilitas. Mereka hidup dalam keterbatasan akses, sering kali diperlakukan secara diskriminatif, dan tidak dilibatkan secara adil dalam kehidupan publik. Padahal, Islam sejak awal sudah menegaskan posisi terhormat mereka.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri ditegur Allah dalam QS. ‘Abasa karena menunjukkan ketidaksenangan kepada sahabat buta Abdullah bin Ummi Maktum. Sejak saat itu, Nabi memuliakannya dan bahkan menjadikannya muazin dan pemimpin shalat di Madinah. Kepemimpinan Islam klasik juga mencerminkan tanggung jawab besar terhadap kelompok lemah.
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata, “Seandainya seekor anak kambing mati di tepi sungai Eufrat karena kelalaianku, aku takut akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah”. Pernyataan ini menjadi landasan moral bahwa negara dalam Islam bukan hanya entitas administratif, tetapi juga institusi yang wajib melindungi dan memuliakan seluruh warga, termasuk yang lemah dan tidak bersuara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menegaskan dalam hadis, “Bukankah kalian diberi rezeki dan ditolong karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari).
Ini adalah prinsip keadilan transenden: keberkahan sosial tidak akan hadir tanpa perhatian dan perlindungan kepada mereka yang rentan. Dengan demikian, Idul Adha adalah momen untuk meneguhkan kembali visi Islam sebagai agama rahmat bagi semesta alam.
Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan tentang menyembelih kesombongan, menghapus ketimpangan, dan menghadirkan kehidupan yang lebih adil. Inilah jihad sejati: membangun peradaban yang manusiawi, adil, dan berketuhanan.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.