Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Puasa Lahir dan Batin

Admin 18 Apr 2023 Warta Istiqlal

Oleh : KH. Abu Hurairah Abd Salam, Lc, MA (Wakabid Penyelenggara Peribadatan BPMI)


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Puasa memiliki dua dimensi: lahir dan batin. Puasa lahir adalah puasa dengan standar ilmu fikih (ilmu hukum Islam) bagi orang awam, sedangkan puasa batin adalah puasa dengan standar ilmu tasawuf (ilmu rohani Islam) bagi orang khusus.

Di kitab Ihya Ulumuddin, bab: Rahasia Puasa, Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan dalam kitabnya ini syarat-syarat untuk menjalani puasa Ramadan secara lahir dan syarat-syarat untuk menjalani puasa Ramadan secara batin.

Syarat-syarat puasa Ramadhan secara lahir, diantaranya: Mengetahui awal bulan Ramadan dengan melihat hilal atau mendengar pernyataan seorang terpercaya mengenainya. Kemudian Niat puasa secara jelas, bisa satu kali niat untuk sebulan bisa juga niat di setiap malam, lalu menahan diri dari masuknya sesuatu ke dalam lubang tubuh secara sengaja, dan juga menahan diri untuk tidak bersetubuh. Nah penahanan diri tersebut dilakukan sejak adzan subuh hingga adzan magrib.

Adapun syarat-syarat puasa batin diantaranya : Mengendalikan mata dari hal-hal yang tidak terpuji dan dibenci, serta hal-hal yang menyibukkan hati dari selain mengingat Allah subhanahu wata'ala. Lalu menjaga mulut dari perkataan buruk, mencegah telinga dari mendengar ungkapan jelek, mencegah anggota tubuh melakukan dosa, dan tidak banyak makan ketika buka puasa dan malam harinya, kemudian setelah berbuka puasa, hati berada di antara harapan dan ketakutan, karena tidak tahu apakah puasa tadi diterima atau ditolak Allah subhanahu wata'ala.

Bagi orang yang setiap hari hobinya makan, minum dan melampiaskan nafsu, syarat-syarat puasa lahir mungkin sangat berat. Bila yang menjadi persoalan kita hanya urusan tidak makan, tidak minum, tidak berhubungan suami istri, maka kualitas puasa kita masih taraf awam.

Seharusnya level dan kwalitas puasa kita meningkat. Hari ini mestinya lebih baik daripada kemarin. Kalau kemarin kita masih di tingkat awam yang puasanya berkutat dengan persoalan fikih, maka hari ini dan seterusnya, sepatutnya beranjak menuju kelas khusus yang bergelut dengan batin atau rohani.

Bila kualitas puasa kita meningkat maka “jarak” kita dengan Allah subhanahu wata'ala semakin “dekat”. Jika kita “dekat” dengan Allah subhanahu wata'ala, maka hajat kebutuhan kita jauh lebih mudah dipenuhi oleh Allah subhanahu wata'ala. Oleh karena itu, seharusnya kita sudah mulai belajar memenuhi syarat-syarat puasa batin, selain tetap menjalankan syarat-syarat puasa lahir.

Dengan menjalani puasa batin yang melengkapi puasa lahir, maka kita tidak sekadar menahan lapar, dahaga dan hawa bafsu, tetapi juga mengendalikan mata, mulut, telinga, hati dan seluruh jiwa raga.

Yang kita hindari bukan hanya yang haram dan yang syubhat? tetapi juga menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat yang sia-sia, yang akan mengotori hati dan batin kita, meskipun itu halal menurut syariat. Sebab, inti dari puasa adalah al-Imsak yaitu menahan atau mengendalikan diri, maksudnya adalah mengendalikan egois, mengendalikan hawa nafsu termasuk juga mengendalikan amarah.

Apabila seseorang berhasil sampai ke tahap ini maka ibadah puasanya dapat dikatakan berhasil menumbuhkan pencerahan ruhaniyah yang berdampak pada kecerahan berpikir dan kecerahan berperilaku di tengah masyarakat. Wallahu ’alam bisshawwab. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.