Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Menjadi Khalifah yang Menjaga Bumi: Amanah Islam dalam Mengisi Kemerdekaan

Admin 31 Jul 2025 Warta Istiqlal

Oleh : H. Abu Hurairah Abdul Salam, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Sebelum manusia lahir ke dunia, Allah SWT telah menetapkan tugas utamanya: menjadi khalifah di bumi. Bukan penguasa sewenang-wenang, tetapi pemelihara, penjaga, dan pengelola alam semesta atas nama Tuhan. Manusia diberikan akal, hati nurani, dan petunjuk melalui wahyu agar dapat menjalankan tugas ini dengan tanggung jawab. 

Firman Allah dalam Surah Hūd ayat 61 sangat jelas menegaskan hal ini: 

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

“Dialah yang menciptakan kalian dari bumi dan memerintahkan kalian untuk memakmurkannya.” (QS. Hūd: 61) 

Kemerdekaan sejati bagi umat Islam bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga merdeka dari keserakahan terhadap alam, ketamakan ekonomi, dan kerakusan atas sumber daya. Maka, mengisi kemerdekaan dalam perspektif Islam adalah merawat bumi, bukan merusaknya. 

Islam menanamkan satu prinsip utama: manusia bukan pemilik bumi, melainkan hanya pengelola yang diberi amanah oleh Allah. Hal ini ditegaskan dalam banyak ayat, seperti:

لِّلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ 

“Milik Allah-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Al-Ḥadīd: 5)

Kesadaran ini melahirkan tanggung jawab spiritual. Apa pun yang kita rusak air, tanah, udara, hewan, pepohonan pada hakikatnya bukan hanya kerugian ekologis, tetapi juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah Allah SWT. 

Air adalah sumber kehidupan seluruh makhluk. Dalam Islam, air bukan hanya berkaitan dengan fungsi fisik, tetapi juga spiritual ia adalah alat bersuci yang wajib digunakan sebelum ibadah.

Suatu hari, Nabi Muhammad ﷺ melihat sahabat Sa’d berwudhu dengan air yang berlebihan. Lalu beliau bersabda:  “Wahai Sa’d, apa ini pemborosan?” Sa’d menjawab, “Apakah dalam wudhu juga ada pemborosan?” Rasulullah ﷺ bersabda: Ya, meskipun kamu berada di sungai yang mengalir deras. (HR. Ahmad)

Bayangkan! Bahkan dalam ibadah, kita dilarang berlebihan dalam menggunakan air meski di sungai yang airny tidak habis-habis. Inilah bentuk ajaran Islam yang sangat halus, tapi dalam: mengajarkan disiplin lingkungan bahkan dari rumah ibadah. 

Islam memberikan perhatian besar terhadap pohon dan tanaman. Rasulullah ﷺ bersabda:  Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau menabur benih, lalu sebagian hasilnya dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, kecuali itu menjadi sedekah baginya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini artinya, siapa pun yang menanam pohon dan memberikan manfaat bagi makhluk lain, bahkan yang hanya sekadar berteduh di bawahnya, akan mendapatkan pahala sedekah. Bahkan dalam hadis lain disebutkan: “…dan pohon itu akan terus menjadi sedekah baginya hingga hari kiamat.” 

Dalam hadis ini tersirat pesan bahwa kebaikan yang kita tanam, jika dilanjutkan oleh makhluk lain burung yang menyebarkan bijinya, manusia yang memetik dan menanam ulang maka rantai kebaikan itu akan terus mengalir tanpa henti. Inilah salah satu bentuk amal jariyah yang paling konkret dan berdampak luas.

Yang lebih menakjubkan, Islam bahkan mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan di saat paling genting, yaitu saat hari kiamat tiba. Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika kiamat tiba dan di tangan kalian ada bibit tanaman, dan kalian masih sempat menanamnya, maka tanamlah.” (HR. Ahmad)

Bayangkan! Ketika seluruh kehidupan akan berakhir, Islam tetap mendorong untuk berbuat baik, melestarikan kehidupan, dan tidak putus asa. Ajaran ini bukan hanya menyentuh aspek ekologi, tapi juga membentuk jiwa optimis dan bermental kontributor, bukan perusak. 

Dalam konteks kemerdekaan bangsa, umat Islam punya peran besar. Kemerdekaan bukan hanya diisi dengan pembangunan fisik: jalan, gedung, dan jembatan. Tapi juga harus diisi dengan pembangunan ekosistem kehidupan yang berkelanjutan. 

Menjaga hutan, menanam pohon, tidak membuang sampah sembarangan, hemat air dan energi, serta mengedukasi anak-anak tentang pentingnya cinta lingkungan semua itu adalah bagian dari jihad kemerdekaan hari ini. “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’rāf: 56)

Tugas kita sebagai umat Islam bukan hanya menjadi hamba yang taat beribadah, tetapi juga menjadi khalifah yang memakmurkan bumi. Menjaga lingkungan hidup bukan sekadar isu modern, tetapi bagian dari inti ajaran Islam.

Mengisi kemerdekaan berarti mengisi ruang kehidupan ini dengan amal, manfaat, dan keberlanjutan. Ketika kita menanam pohon, menghemat air, dan mengelola sampah dengan bijak, sesungguhnya kita sedang menjaga titipan Tuhan, sekaligus menghidupkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

Mari kita buktikan bahwa Islam bukan hanya mengajarkan langit, tetapi juga menjaga bumi. Inilah wajah Islam yang cinta kehidupan, dan inilah makna kemerdekaan dalam pandangan Islam: merdeka dari merusak, dan merdeka untuk memakmurkan.
 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.