Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Tauhid adalah inti ajaran Islam dan fondasi seluruh bangunan akidah. Ia bukan hanya pernyataan iman, melainkan kesimpulan puncak dari penalaran logis yang jernih dan bebas kontradiksi. Logika bertauhid mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada pasti memiliki sebab; rangkaian sebab itu tidak mungkin berjalan tanpa ujung; maka harus ada Sebab Pertama yang tidak diciptakan oleh siapa pun. Sebab Pertama itu adalah Allah SWT, Pencipta, Pengatur, dan Tujuan akhir seluruh ciptaan.
Dalam kerangka berpikir ini, Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan tauhid melalui wahyu, tetapi juga melalui argumentasi rasional yang dapat diterima oleh akal sehat. Seperti dijelaskan oleh KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha), Rasulullah SAW menyampaikan logika bertauhid dalam berbagai bentuk, salah satunya dengan menggunakan “logika kompetisi”.
Dengan bimbingan Allah, Rasulullah SAW mengajarkan: andaikan Tuhan itu lebih dari satu, lalu mereka berebut kekuasaan atas ‘Arsy atau mengatur alam raya sebagaimana para penguasa di dunia, niscaya akan terjadi pertarungan. Dalam pertarungan itu, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang kalah tentu tidak layak menjadi Tuhan.
Allah SWT berfirman: wa lā ‘alā ba‘ḍuhum ‘alā ba‘ḍin (dan sebagian tidak akan mengalahkan sebagian yang lain), ayat tersebut menegaskan mustahilnya kekuasaan absolut dimiliki bersama oleh dua entitas setara. Kesimpulan logisnya: hanya satu Tuhan yang layak disembah.
Allah SWT berfirman: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah binasa. Maka Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya\21: 22). Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini merupakan hujjah rasional atas keesaan Allah. Jika ada dua tuhan atau lebih, pasti akan timbul perselisihan dalam pengaturan alam.
Konflik itu akan menimbulkan kekacauan, sehingga alam ini tidak akan stabil. Fakta bahwa alam raya berjalan dengan keteraturan yang sempurna membuktikan bahwa Penguasanya hanya satu. Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Quraish Shihab memaknai ayat ini dengan menekankan keterkaitan antara keteraturan alam dan kesatuan pengatur.
Menurut beliau, Al-Qur’an menggabungkan logika dengan realitas moral: keteraturan kosmik menjadi bukti keesaan Allah, dan pengakuan terhadap-Nya mengharuskan manusia hidup dalam keselarasan hukum-Nya. Sementara itu, metode tafsir Al-Sya‘rawi yang berorientasi pendidikan akan memaparkan ayat ini dengan mengaitkannya pada realitas kehidupan.
Dalam pandangan beliau, jika dalam satu negara saja diperlukan satu pemimpin tertinggi demi stabilitas, maka terlebih lagi bagi alam semesta yang luasnya tak terhingga. Pemikiran ini mengakar pada fitrah manusia bahwa kekuasaan tertinggi tidak mungkin dibagi secara setara.
Hadits-hadits Rasulullah SAW pun menguatkan prinsip ini. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda: “Barang siapa mengucapkan ‘Lā ilāha illallāh’ dengan ikhlas, ia akan masuk surga.” (HR. Ahmad). Ikhlas dalam ucapan ini tidak hanya berarti membenarkan dengan hati, tetapi juga memahami secara logis dan meyakini bahwa tidak ada yang pantas disembah selain Allah.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga kemurnian tauhid bukan hanya perkara ibadah lahiriah, tetapi juga menjaga logika hati agar tidak menyandarkan kemuliaan dan pertolongan kepada selain Allah.
Logika bertauhid juga mengandung prinsip koherensi: konsep tentang Tuhan harus bebas dari kontradiksi. Jika Allah Maha Kuasa, tidak mungkin ada sekutu yang sama-sama Maha Kuasa. Ia menuntut konsistensi: jika Allah Esa, maka segala ibadah dan hukum harus kembali kepada-Nya.
Prinsip kausalitas pun dipahami secara proporsional: hukum sebab-akibat berlaku, tetapi seluruhnya berada di bawah kehendak Allah. Pada akhirnya, seluruh proses berpikir harus bermuara pada pengakuan dan pengabdian kepada-Nya.
Dengan memahami logika bertauhid sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, ditafsirkan oleh para ulama, dan dikuatkan oleh wahyu, kita menyadari bahwa tauhid bukan hanya keyakinan, tetapi hasil dari proses berpikir yang sehat dan mendalam. Kesadaran ini mendorong kita untuk menjadikan tauhid sebagai pusat kehidupan, sumber nilai, dan arah tujuan. Maka sadarlah betapa pentingnya bertauhid, karena ia adalah cahaya akal dan hati, pengikat keteraturan alam, dan jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Wallahu a'lam. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.