Oleh: Dr. KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA
Pada 10 November kemarin kita bangsa Indonesia merayakan hari Pahlawan. Untuk memperingati jerih payah perjuangan para pendiri bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia yang saat ini kita sebagai generasi berikutnya menikmati indahnya kemerdekaan.
Tanpa jasa para Pahlawan Kusuma Bangsa itu, mungkin saat ini kita masih hidup dalam suasana penjajahan dengan segala jeratan-jeratan yang memaksa kita tunduk pada kekuasaan asing. Dengan kemerdekaan kita dapat mengatur dan menentukan nasib sendiri sebagai bangsa yang besar dan berdaulat.
Dalam Islam kepahlawanan dijunjung tinggi melalui surat Al-Ahzab: 33/:23 yang berbunyi
مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖوَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًاۙ
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu.614) Mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).”
Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana sikap seorang mukmin, diantaranya berjihad bersama Rasulullah pada Perang Ahzab. Rasulullah sebagai teladan, mengajarkan mereka untuk selalu tabah dan sabar dalam memperjuangkan agama Allah. Yang dimaksud dengan menunggu pada ayat ini adalah menunggu salah satu di antara dua kebaikan, yakni menang atau mati syahid.
Allah menerangkan bahwa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ada orang-orang yang menepati janjinya. Mereka itulah Pahlawan Islam yang telah berjuang dengan seluruh jiwa dan hartanya demi tegaknya agama Islam di muka bumi.
Di antara mereka ada yang mati syahid di Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq, dan peperangan-peperangan lainnya, sedang sebagian yang lain ada yang menunggu-nunggu dipanjangkan umurnya, menunggu ketetapan Allah Yang Maha Esa untuk dapat ikut serta berjuang dengan jiwa raganya bersama Rasulullah saw.
Orang-orang yang masih hidup ini, sekali-kali tidak akan berubah janjinya kepada Allah, akan tetap ditepatinya janjinya selama hayat dikandung badan.
Dalam Tafsir al-Kasysyaf dijelaskan bahwa beberapa orang sahabat ada yang bernazar: jika mereka ikut perang bersama Rasulullah, mereka tidak akan mundur dan tetap bertahan sampai gugur sebagai syuhada. Di antara sahabat yang berjanji itu ialah Usman bin Affan, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’id bin Zaid, Hamzah, Mus’ab bin ‘Umair, dan sahabat-sahabat yang lain.
Kepahlawanan sesungguhnya tidak harus berjuang di medan peperangan. Masing-masing kita punya kesempatan menjadi pahlawan dalam bidang yang kita tekuni. Asal kita melaksanakannya dengan sepenuh hati, teguh memperjuangkan nilai-nilai kebenaran baik secara agama maupun sosial, untuk maslahat orang banyak. Baik sekala nasional maupun regional maupun keluarga sekalipun.
Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrahmaan bin Qais, dari Sukain bin Abi Siraaj, dari ‘Amru bin Diinaar, dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah saw bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ، شَهْرًا، وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَلْبَهُ أَمْنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى أَثْبَتَهَا لَهُ، أَثْبَتَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الأَقْدَامُ
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, sedangkan amal yang paling dicintai oleh Allah adalah kebahagiaan yang engkau diberikan kepada diri seorang muslim atau engkau menghilangkan kesulitannya atau engkau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari kelaparan. Dan sesungguhnya (jika) aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan satu hajat/keperluan lebih aku sukai daripada aku beri’tikaf di masjid ini, yaitu masjid Madiinah selama sebulan. Dan barangsiapa yang meninggalkan amarahnya, niscaya Allah akan tutup aurat (kesalahan)-nya. Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu melakukannya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan memenuhi hatinya dengan rasa aman pada hari kiamat. Barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk menunaikan satu keperluan hingga keperluan itu dapat ditunaikan baginya, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengokohkan kakinya di atas shiraath pada hari dimana banyak kaki yang tergelincir padanya”
Jika kita tidak ikut berperang melawan musuh, kitab isa menjadi pahlawan sesuai konsep Pahlawan sebagaimana dijelaskan oleh hadis tersebut. Jadilah orang yang bermanfaat bagi orang banyak, menggembirakan orang lain, membantu orang lain yang sedang kesulitan, bukan malah mengambil kesempatan cari keuntungan pribadi Ketika ada Kawan yang sedang mendapat kesulitan.
Membantu membayar utang, memberi makan yang sedang kelaparan. Bahkan Rasulullah menjelaskan bahwa beliau lebih senang kepada orang membantu sesama yang sedang kesulitan dari pada orang tersebut beri’tikaf di masjid Nabawi.
Inilah nilai-nilai kepahlawanan yang kita semua dapat melaksanakannya. Dengan demikian maka setiap kita bisa menjadi pahlawan meskipun tanpa pergi ke medan perang. (Bukhori SA/Mimbar Jumat Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.