Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Beberapa bulan kedepan bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilihan umum (Pemilu). Pemilu serentak yang akan memilih Presiden dan Wakil Presiden, bersamaan dengan memilih para wakil rakyat yang akan duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (tingkat pusat, provinsi, maupun daerah Kabupaten/Kota). Hajatan politik lima tahunan ini, adalah sebagai implementasi dari sistem negara demokrasi, dimana kekuasaan berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Cara demokrasi ini telah dipilih oleh bangsa Indonesia untuk menentukan para pemimpinnya yang duduk di lembaga eksekutif maupun legislatif.
Dalam pengertian KBBI memberikan makna kata kekuasaan yang berarti kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik. Para ahli mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan individu atau sekelompok orang untuk mempengaruhi perilaku, cara berfikir individu atau kelompok lainnya sesuai dengan yang diinginkan.
Dalam Al-Qur’anul Karim, kata “al-mulk” dimaknai sebagai kekuasaan, kerajaan sedangkan pemilik kekuasaan, raja adalah terjemahan dari “al-malik”, sehingga al-asmaa’ul husna “Al-Malikul Mulk” sering diterjemahkan menjadi “Maha Pemilik Kekuasaan”; Yang Maha Kuasa Atas Segala Kekuasaan; Maharaja Diraja. Pada dasarnya semua kekuasaan yang dimiliki manusia, adalah pemberian “pinjaman” kuasa dari Yang Maha Kuasa, Sang Maha Pemilik Kuasa di seluruh alam semesta.
Allah subhanahu wata'ala telah menganugerahkan kekuasaannya pada manusia, mulai dari para manusia yang terpilih sebagai utusan, dimana ada beberapa Nabi yang memiliki kekuasaan politik di antaranya Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihimas salam, dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selain para Nabi dan Rasul, sebagaimana diberitakan dalam Al-Qur’anul Karim, ada juga yang diberi kekuasaan seperti Iskandar Agung (Alexander the great): “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah, “Akan kubacakan kepadamu kisahnya.” Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS. Al-Kahf/18: 83-84).
Ada juga Thalut: “Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui” (Al-Baqarah/2: 247).
Ibnu Abbas radhiallahu anhu dan Anas bin Malik radhiallahu anhu meriwayatkan bahwa ketika penaklukan kota Makkah, Rasulullah menubuwahkan bahwa Romawi dan Persia akan jatuh ke dalam kekuasaan kaum Muslimin.
Mendengar hal tersebut, kaum munafik dan yahudi mengatakan seranya mencemooh bahwa darimana Muhammad akan mendapatkan kekuasaan tersebut, sedangkan dua kerajaan tersebut adalah adikuasa pada saat itu. Lalu Allah menurunkan ayat: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imran/3: 26).
Ayat di atas menegaskan bahwa Allah subhanahu wata'ala Yang Maharaja Diraja Sang Pemilik Kekuasaan memberikan kekuasaan kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, dan mencabut kekuasaan dari hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya pula.
Ayat ini juga menjadi pengingat, nasihat bagi semua manusia yang “menginginkan” kekuasaan, atau manusia yang diamanahkan kekuasaan. Bahwa kekuasaan itu adalah mutlak milik Allah subhanahu wata'ala, manusia hanya diberi pinjaman sementara, setiap saat Allah bisa mencabutnya. Sejatinya kekuasaan digunakan untuk mencapai apa yang diridhai Allah subhanahu wata'ala.
Dalam tafsir AlMaraghi dicontohkan banyak bangsa-bangsa di belahan timur yang secara kuantitas memiliki penduduk yang banyak dikuasai oleh bangsa-bangsa barat meski jumlah mereka sedikit. Hal ini akibat terjadinya kebodohan, gampang berpecahbelah, merasa rendah diri dalam melawan penjajah. Bahkan ada yang berkolaborasi dengan penjajah untuk menjajah bangsanya sendiri, ketika sebagian dari bangsanya yang lain bertekad, berjuang melawan penjajah dan kezalimannya untuk mendapatkan kemerdekaan.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.