Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Hidup Menunggu Waktu Shalat

Admin 17 Jun 2025 Warta Istiqlal

Oleh: Saparwadi Nuruddin Zain

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam perjalanan waktu yang tak pernah berhenti, kita terkadang lupa bahwa hidup bukan hanya untuk mengejar dunia, tapi untuk memenuhi tujuan penciptaan yang agung: beribadah kepada Allah. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dalam Al-Qur’an Al-Karim: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat/51: 56). Salah satu bentuk ibadah yang paling utama dan paling rutin adalah shalat, titik temu antara hamba dengan Rabb-nya, yang Allah fardhukan langsung dalam peristiwa agung: Isra' Mi'raj.

Kini, saat tahun Hijriah mendekati akhirnya, muhasabah menjadi kebutuhan ruhani. Kita bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita benar-benar hidup untuk menunggu waktu shalat, atau hanya menjadikan shalat sebagai jeda dari hidup kita yang terlalu sibuk?

Al-Qur'an mengingatkan dengan tegas bahwa penciptaan manusia bukan untuk bermain-main, bukan pula semata-mata untuk bekerja, berkeluarga, atau meraih dunia. Semua itu adalah sarana. Tujuannya hanya satu: ibadah. Dan ibadah yang paling mendasar, paling awal diperintahkan, dan paling pertama akan ditanya di akhirat kelak adalah shalat. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Amalan yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, maka baik pula seluruh amalnya. Jika rusak shalatnya, maka rusak pula seluruh amalnya” (HR. Thabrani).

Di tengah keramaian dunia yang sering membutakan dan melelahkan jiwa, shalat adalah waktu istimewa: waktu menghadap langsung kepada Allah. Kita berdiri, rukuk, sujud, dan membaca ayat-ayat-Nya dalam keheningan, jauh dari sorot mata manusia. Kita berbisik pada Sang Pencipta, menyampaikan syukur, harap, dan keluh.

Bukan tanpa sebab shalat disebut sebagai mi'raj-nya orang beriman. Sebab, sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam naik ke langit untuk bertemu Allah subhaanahu wa ta’aala dan menerima perintah shalat, setiap kita pun melakukannya lima kali sehari sebagai “rihlah ruhani”, sebuah perjalanan spiritual menyucikan jiwa.  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila kamu hendak mendirikan shalat, maka seakan-akan itulah shalat terakhirmu” (HR. Ahmad).

Shalat bukan hanya ibadah umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Shalat adalah jejak ibadah para Nabi dan Rasul. Di antara ciri khas para nabi adalah kesungguhan mereka dalam berdiri di hadapan Allah. Ketika kita shalat, kita seakan menyambung rantai yang mulia itu. Kita ikut serta dalam barisan panjang orang-orang pilihan yang seluruh hidupnya terhubung dengan waktu-waktu shalat. Kita tidak sendirian. Kita sedang meniti jalan para utusan Allah.

Shalat adalah oase di tengah padang kehidupan. Ia menyegarkan, menenangkan, dan menyejukkan jiwa. Ketika hidup melelahkan, dunia terasa sesak, dan masalah datang bertubi-tubi, maka shalatlah yang menjadi tempat kembali. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal: “Wahai Bilal, tenangkan kami dengan shalat” (HR. Abu Dawud). Bagi jiwa-jiwa yang beriman, shalat bukan beban, tapi pelipur. Ia bukan sekadar kewajiban, tapi kebutuhan.

Sudah semestinya hidup ini tidak dijalani dengan menunda-nunda shalat, tetapi mengatur hidup agar berputar mengelilingi waktu-waktu shalat. Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya bukan sekadar penanda waktu, tapi penentu arah hidup. Seperti azan yang memanggil jiwa kembali ke Allah, shalat adalah alarm untuk menyadarkan kita dari kelalaian.

Bayangkan jika hidup kita dipenuhi dengan semangat menanti waktu shalat. Kita akan lebih tenang, lebih sadar, lebih bersyukur. Kita tidak akan merasa hampa atau cemas menghadapi masa depan, sebab kita tahu bahwa setiap hari kita memiliki lima momen khusus bersama Allah.

Saat penghujung hijriah tahun ini, mari kita hitung bukan hanya berapa banyak tugas dunia yang kita selesaikan, tapi juga seberapa khusyuk shalat kita, berapa kali kita bangun di sepertiga malam, dan berapa banyak air mata yang jatuh saat sujud. Karena pada akhirnya, bukan jabatan atau pencapaian yang kita bawa ke akhirat, melainkan amal dan ibadah, terutama shalat. Hidup bukan soal berapa banyak waktu yang kita habiskan, tapi seberapa sering kita menyambung jiwa kepada Allah melalui shalat. Wallaahu a’lam. 

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.