Foto: Dok. Media Istiqlal

Hikmah: Esensi Debat Presfektif Al-Quran

Admin 15 Jan 2024 Warta Istiqlal

Oleh : H. Djamalullail, M.Pd.I


Jakarta, www.istiqlal.or.id - Maraknya tiga calon presiden yang beradu gagasan dalam acara debat ketiga pilpres 2024 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum di Istora Senayan Jakarta pada ahad lalu, perlu kiranya kita memahami makna debat atau jadal. Al-Jurjani menyebut jadal sebagai perlawanan seseorang kepada musuhnya untuk menjatuhkan pendapatnya dengan argumentasi yang kuat maupun yang lemah.

Debat adalah cara manusia menjelaskan apa yang bergolak dalam hati, berupa emosi maupun perasaan, baik untuk memperlihatkan pemikiran atau membela kebenaran, atau mengoreksi kesalahan, atau mengarahkan pemahaman dan lain-lain.

Jadal atau debat itu sendiri merupakan tabiat yang melekat kepada fitrah manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Quran : “... Dan sesungguhnya manusia itu paling banyak mendebat” (Q.S. al-Kahfi/18: 54). Karena jiwa manusia pada dasarnya cenderung membela diri dan mengutarakan maksud hatinya, bahkan manusia akan terus berdebat sampai hari kiamat. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wata'ala dalam Al-Qur'an : “Pada hari ketika masing-masing diri datang untuk membela dirinya sendiri...” (QS. an-Nahl: 111).

Dalam Islam, ada sejumlah etika yang perlu dipahami ketika berdebat. Umumnya, perdebatan muncul ketika ada pemikiran dan perbedaan pendapat. Apabila perdebatan tidak disikapi dengan baik, tujuan awal yang semula untuk berdiskusi justru berujung menjadi perselisihan. Karenanya, kaum muslimin harus memahami etika saat berdebat.

Debat juga disebut sebagai metode dakwah Islam, namun perlu dipahami bahwa debat merupakan jalan terakhir yang dapat ditempuh, bukan untuk mengawali dakwah. Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam surah an-Nahl ayat 25. Artinya : "(ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu".

Begitu sempurnanya agama Islam, dimana cara penyampaian informasi pun diajarkan dalam agama, Allah subhanahu wata'ala menurunkan Al-Qur'an untuk menyampaikan argumentasi kepada makhluk-Nya dalam bentuk yang paling indah, meliputi detail masalah, agar orang-orang awam dapat memahami dari keagungannya, apa-apa yang membuat mereka puas dan mematahkan hujjah, dan kalangan yang memiliki keterbatasanpun dapat memahami diantara celah argumentasi tersebut lebih dari apa yang dapat dipahami oleh yang lain.

Adapun etika berdebat dalam Islam, diantaranya adalah :

1. Menghadapi lawan bicara dengan tenang. 
2. Memulai dengan prasangka baik atau husnuzan terhadap sesama muslim. Hal ini penting, sebab jika diawali dengan rasa tidak percaya maka kita akan selalu menolak apa yang dikatakan oleh lawan debat. 
3. Sabar. 
4. Menghargai pendapat orang lain sejauh pendapat tersebut memiliki dalil atau sumber-sumber yang kuat. 
5. Tidak memaksakan kehendak bahwa pendapatnya yang paling benar. 
6. Lapang dada menerima kritik yang sampai untuk membetulkan kesalahan. 
7. Tidak sombong 
8. Hendaklah memilih ucapan yang terbaik dan terbagus dalam berdebat. 
9. Tidak berkata kasar dan mencaci. 
10.Mengusung semangat untuk menemukan yang lebih baik atau lebih benar, bukan malah menjatuhkan. 
11.Tidak mengharapkan pamrih apa pun. 
12.Akhiri dengan komitmen untuk menjalankan kebenaran yang ditemukan bersama.

Dengan demikian, maka berdebat dapat menjadi sarana yang efektif untuk menemukan gagasan baru membangun negeri, mempererat tali persaudaraan, menjadikan tanah air tetap harmonis, hidup rukun, nyaman dan tentram.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.