Oleh : Dr. Budi Utomo, MA
Sahabat Ali Ibnu Abi Thalib r.a. menyampaikan hikmah :
أوّلُ الغضبِ جنون، وآخره ندم، وربما كان العطب في الغضب
Artinya : “Kemarahan itu awalnya adalah kegilaan, dan akhirnya adalah penyesalan. Dan bisa jadi kehancuran itu karena kemarahan”.
Manajemen kemarahan adalah masalah yang harus dipelajari oleh setiap individu. Pengulangan nasehat untuk tidak marah yang disampaikan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam berulang kali kepada seorang sahabat memiliki arti mendalam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ. فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لاَ تَغْضَبْ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ)
Artinya : Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ada seseorang yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ”Berilah aku nasihat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Janganlah engkau marah.” Diapun mengulanginya beberapa kali, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Janganlah engkau marah” (HR. al-Bukhari).
Bagaimana bila seseorang emosinya memuncak? Nabi mengajarkan untuk berwudhu, kalau masih marah sebaiknya dilanjutkan shalat dua rakaat. Dari Athiyyah as-Sa’di radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu” (HR. Abu Daud).
Atau berpindah posisi dan tempat, dari berdiri ke duduk sampai berbaring. Mencari suasana baru atau mencari aktivitas lain adalah salah satu solusi psikologis untuk melenyapkan marah. Bukan melampiaskannya dengan serapah atau tindak kekerasan dan perusakan. Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya : “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah sampai marahnya hilang, namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)
Tak sedikit kemarahan berawal dari canda. Salah paham dalam menerima pernyataan juga kerap memicu kemarahan. Hisamuddin Al-Wa’idzi (wafat 99 H) dalam syairnya menyebutkan;
Artinya : “Berhati-hatilah dengan candaan, berapa candaan berbahaya. Tidak sedikit dari sepasang sahabat, berseteru setelah gurauan.” (HR. Abu Daud).
Jangan sampai ketika saudaramu meradang, telinganya memerah, matanya menyala, dengan ringannya kau katakan, "Saya hanya becanda." Setelah amarah memuncak, hati yang dulunya penuh cinta, menjadi berkeping-keping dan tak bisa disatukan serpihannya. Cerdaslah dalam memilih tema cara dan waktu gurauan. Becanda itu perlu sekedarnya, seperti bumbu penyedap agar tidak hambar pergaulan. Namun terlalu banyak garam menjadikan lidah kehilangan selera makan walau sedang lapar.
Seribu teman tidak cukup, satu musuh sudah terlalu banyak. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala Menganugerahi kita sifat lemah lembut dan penuh kesabaran, sehingga mudah bergaul dan pandai menjaga persaudaraan Aamiin.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.