Oleh: KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc., MA.
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Ketika seorang bayi lahir, orang tua memberinya nama sebagai doa. Nama bukan sekadar panggilan, tetapi harapan yang dipahatkan ke dalam jiwa. Demikianlah Abdul Muthalib, kakek Nabi, saat menimang cucunya yang baru lahir. Ia memberinya nama yang belum pernah dikenal sebelumnya: Muhammad, “yang banyak dipuji.” Seakan alam semesta sudah tahu, kelak dialah manusia yang akan dipuji di langit dan di bumi.
Namun, Rasulullah saw bukan hanya Muhammad. Ia adalah Ahmad, al-Māḥī, al-Ḥāsyir, al-‘Āqib, al-Amīn, al-Muṣṭafā. Setiap nama bukan sekadar gelar, tetapi cahaya yang memantulkan sisi-sisi keagungan beliau.
Muhammad adalah manusia yang dipuji karena akhlaknya. Ia mengajarkan, bahwa pujian sejati tidak lahir dari panggung megah atau kata-kata manis, melainkan dari hati yang tulus memberi dan jiwa yang sabar menghadapi.
Ahmad adalah hamba yang paling banyak memuji Allah. Ia menunjukkan, siapa pun yang ingin dimuliakan manusia, terlebih dahulu harus merendahkan diri di hadapan Sang Pencipta.
Al-Māḥī adalah penghapus kegelapan. Dengan cahaya wahyu, beliau mengikis buta huruf, menyingkirkan berhala, dan membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan. Nama ini adalah panggilan bagi kita semua: beranilah menjadi cahaya yang menghapus kelam, walau setitik.
Al-Ḥāsyir adalah pengumpul. Ia bukan sekadar nabi terakhir yang menjadi poros hari kebangkitan, tetapi juga poros persatuan umat. Dari kabilah-kabilah yang bertikai, dari bangsa-bangsa yang terpecah, beliau merajut ukhuwah, mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk bercerai, melainkan peluang untuk saling melengkapi.
Al-‘Āqib adalah penutup. Risalahnya adalah puncak kesempurnaan, tak ada lagi nabi setelahnya. Dari sini kita belajar, bahwa keindahan hidup ditentukan oleh penutupnya. Akhir yang baik adalah mahkota seluruh perjalanan.
Di antara namanya ada pula al-Amīn – sang terpercaya, bahkan sebelum kenabian. Dunia seakan berbisik bahwa integritas adalah modal utama manusia. Ada juga al-Muṣṭafā – yang terpilih. Dari sekian banyak jiwa, Allah memilih yang paling jernih untuk membawa risalah. Dan beliau adalah Ra’ūf lagi Raḥīm – lembut, penuh kasih sayang, hingga musuh pun tergetar oleh keluhuran hatinya.
Setiap nama Nabi adalah pelajaran, setiap gelar adalah pesan. Nama-nama itu adalah cermin di mana kita bercermin: apakah hidup kita sudah menjadi pantulan dari cahaya beliau? Apakah kita sudah pantas disebut umat Muhammad – yang dipuji karena kebaikan, atau Ahmad – yang selalu memuji Allah?
Menyebut nama Nabi bukan hanya ibadah, tetapi juga renungan. Setiap shalawat adalah pengingat: bahwa ada manusia agung yang menjadi teladan, ada risalah abadi yang harus dijaga, dan ada cahaya yang tak boleh padam di hati kita.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.