Oleh : Saparwadi Nuruddin Zain
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Akhir-akhir ini, konflik di tanah Palestina, kembali memanas, setelah serangan mengejutkan dari para pejuang Hamas, yang berhasil menguasai beberapa wilayah di perbatasan, pasukan penjajah zionis israel menghujani Gaza dengan bom, yang menyebabkan korban jiwa, banyak di antaranya anak-anak,kita mengutuk pemboman tersebut yang menyasar fasilitassipil, kesehatan, bahkan supaya tidak bisa diketahui dunia, pemboman juga menarget fasilitas telekomunikasi. Seperti biasa, masyarakat dunia sebagian besar mengutuk serangan yang dilakukan oleh zionis israel.
Kami sengaja menggunakan huruf kecil untuk menulis “zionis israel”, karena memang secara kuantitas, zionis israel yang berada di tanah Palestina terhitung kecil, berada di sekitar “perkampungan Arab”, berjarak laut dengan negara-negara Eropa yang selalu berada di sisi zionis israel. Umat Islam diberbagai belahan dunia, bereaksi dengan melakukan berbagai aksi solidaritas, mereka menuntut supaya penjajah zionis israel berhenti melakukan pengeboman ke wilayah-wilayah sipil di Gaza, mengutuk serangan mereka, dan meminta parapemimpin negara-negara mengutuk dan menekan zionis israelagar menghentikan penyerangannya.
Konflik berkepanjangan ini, tidak lain karena tanah suci Palestina, yang merupakan tanah suci khususnya bagi tiga agama samawi: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Yahudi mengklaim bahwa tanah Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka, dan meyakini bahwa “Kuil Sulaiman” yang megah pernah berdiri di sana, dan tembok ratapan merupakan sisa dari bangunan kuil. Mengenai tanah suci “yang dijanjikan” ini, dalam Al-Qur’an dikisahkan: Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Ingatlah akannikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi diantaramu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka, dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain.”
Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadiorang yang rugi. Mereka berkata, “Wahai Musa! Sesungguhnya didalam negeri itu ada orang-orang yang sangat kuat dan kejam, kami tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar darinya. Jika mereka keluar dari sana, niscaya kami akan masuk.
”Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yangbertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, “Serbulah merekamelalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinyaniscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanyakepada Allah, jika kamu orang-orang beriman.” Merekaberkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karenaitu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamuberdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.” Dia (Musa)berkata, “Ya Tuhanku, aku hanya menguasai diriku sendiri dansaudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (Allah) berfirman, “(Jika demikian), maka(negeri) itu terlarang buat mereka selama empat puluh tahun,(selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah eng-kau (Musa) bersedih hati (memikirkannasib) orang-orang yang fasik itu” (QS. al-Ma'idah/5: 20-26).
Dalam kitab tafsir dikatakan bahwa “al-ardhul muqaddasah” adalah tanah yang dibersihkan dan disucikan dari keberhalaan. Seperti halnya Makkah dan Madinah yang merupakan “al-haramain” (dua tanah haram) yang juga dua tanah suci. Diriwayatkan bahwa yang dimaksud tanah suci dalam ayat diatas adalah Palestina, atau “biladul muqaddas” (negeri yang suci)atau “al-ardhul mi’ad” (tanah yang dijanjikan). Allah subhanahu wata'ala telah menjanjikan kepada anak cucu Ibrahim alaihissalam, termasuk wilayah Hijaz (Makkah-Madinah) dan negeri-negeri Arab sekitarnya.
Jadi, dari kata-kata Musa alaihis salam: “yang telah ditentukan Allah bagimu” bermakna tanah yang dijanjikan Allah subhanahu wata'ala kepada Ibrahim alaihis salam untuk ditinggali, bukan berarti menjadi miliknya, dan bukan tidak boleh ada yang tinggal di sana bersama mereka. Kesimpulan Yahudi bahwa itu tanah yang dijanjikan hanya untuk mereka, dan menjadi milik mereka tidaklah benar. Wallaahu a’lam.
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.