Oleh : Dr. Khairul Mustaghfirin, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًاۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ۢ ەۙ بِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ
Artinya: "Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya dan mereka mendapat azab yang sangat pedih karena mereka selalu berdusta." (QS. Al-Baqarah [2]:10)
Setiap manusia yang masih hidup seharusnya memiliki hati yang hidup juga. Hati yang hidup adalah hati yang selalu mengingat kepada penciptanya dan selalu berdzikir.
Ciri-ciri memiliki hati yang peka adalah ketika terjadi bencana dalam hidup, kita menyadari bahwa hal tersebut dapat menjadi tanda adanya teguran dari Allah subhanahu wata'ala, supaya menjadi pribadi yang lebih baik dan agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya.
Ketika teguran tersebut terjadi dan kita bisa meresponnya dengan positif, yaitu dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala, maka atas keridhaan-Nya kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Karena sejatinya kehidupan sesungguhnya adalah ketika di akhirat, yaitu ketika hari pembalasan. Sebelum itu terjadi hendaknya kita senantiasa mempersiapkan bekal. Seperti di antaranya tidak meninggalkan shalat dan puasa, serta melengkapinya dengan melakukan amalan sunnah.
Mengenai hidupnya hati, beberapa orang di dunia ini juga ada yang memiliki hati yang mati, yaitu hati yang sudah tidak merespon ketika diberi teguran oleh Allah subhanahu wata'ala maupun nasihat dari orang lain di sekitarnya.
Guna menghidari matinya hati, kita dapat berikhtiar dengan berupaya menghidupkan hati, yaitu dengan cara sering membaca Al-Qur’an, duduk di majelis ilmu untuk memperdalam ilmu agama, dan mendengarkan nasihat baik para ulama serta orang sekitar.
Berbuat kebaikan yang mengarah ke syurga seperti contoh sebelumnya tidak harus dengan datang ke masjid, akan tetapi bisa juga kita tempuh melalui gawai yang bisa dilakukan di mana saja. Namun memang dianjurkan untuk bertemu langsung dengan guru atau ulama, sehingga dari silaturahmi tersebut, kita bisa mendapatkan rahmat dan barokah dari Allah subhanahu wata'ala.
Datang ke masjid juga tidak harus menunggu kita bersih dari dosa, tidak harus menunggu ilmu kita setara dengan para ulama di sana. Tetaplah datang dan menjalani ikhtiar menghidupi hati, insyaAllah Allah subhanahu wata'ala akan membalas setiap niat baik dengan kebaikan yang Dia ridhai, yaitu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kajian Hawamisy juga dapat disimak di sini. (ANISA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.