Oleh: KH. Warso Winata, Lc
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Dalam Kajian Hawamisy di Masjid Istiqlal dengan bahasan kitab Tafsir Imam Mutawalli Sya'rawi: Bahasan Surah Al-Humazah, KH. Warso Winata, Lc, memaparkan bolehnya seorang muslim mengumpulkan harta, tetapi niat dan orientasi kehidupan haruslah terarah pada kebaikan dan keberkahan, bukan hanya pada aspek duniawi semata.
Karena manusia hidup di muka bumi harus berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Dan pastinya pada setiap lini kehidupan harus menetapkan tujuannya, sehingga segala yang diperbuatnya dapat memberikan manfaat kepada sesama makhluk Allah Subhanahu Wata’ala.
Usaha yang dimaksud adalah ketika seseorang dalam proses mencapai tujuannya itu dibarengi dengan ibadah dan tidak melanggar syariat yang telah ditentukan oleh Islam. Hal tersebut sebagaimana yang difirmankan Allah subhanahu wata'ala,
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ (1) ۨالَّذِيْ جَمَعَ مَالًا وَّعَدَّدَهٗۙ (2) يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ (3)
Artinya: "Celakalah setiap pengumpat lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia (manusia) mengira bahwa hartanya dapat mengekalkannya." (QS. Al Humazah ayat 1 s.d. 3)
Menurut ajaran Islam, harta merupakan sebuah alat atau sarana seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Yaitu dengan menanamkan karakter kedermawanan agar harta yang dimiliki dapat meninggikan derajatnya dan tetap memelihara kemuliaannya.
Tujuan harta yang lainnya juga dapat dijadikan sebagai manfaat bagi manusia lain, karena manusia tidak luput dari sifat sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan sesama, saling gotong royong dan memajukan masyarakat.
Kembali membahas QS. Al-Humazah ayat 1 s.d. 3, Allah subhanahu wata'ala memulai surat ini dengan kalimat "wailun" yang berarti "celaka". Dalam tafsir Imam Mutawalli Sya'rawi, kata "wail” disebutkan sebagai lembah di neraka jahanam.
Allah subhanahu wata'ala menekankan makna ini setelah kalimat "wail" untuk menyampaikan sesuatu yang penting dan berbahaya jika dilakukan oleh manusia. Uniknya, surat ini adalah satu-satunya yang dimulai dengan "wail" guna menunjukkan pentingnya peringatan ini.
Selanjutnya, Allah subhanahu wata'ala menyebut 'alladzi jamaa maau waaddadah', yaitu orang yang terobsesi dengan mengumpulkan harta dan terus menghitung-hitungnya. Perlu dicatat bahwa yang ditekankan adalah orientasi pikiran yang hanya terfokus pada harta tanpa memperhatikan kehidupan akhirat.
Ayat ini mencerminkan bahwa mengumpulkan harta adalah boleh, namun niat dan orientasi kehidupan haruslah terarah pada kebaikan dan keberkahan, bukan hanya pada aspek duniawi semata.
Allah subhanahu wata'ala mengancam orang-orang yang terobsesi dengan harta dan terus menghitungnya, dengan neraka yang panas menyelubungi mereka. Ini adalah peringatan bahwa kekayaan yang dihasilkan dari cara tidak benar akan membawa akibat sangat buruk bagi seorang hamba di akhirat.
Jadi, surah Al-Humazah memberikan peringatan kepada kita untuk menjaga lisan dari kata-kata buruk, menjauhi ejekan dan umpatan serta mengarahkan orientasi kehidupan kepada kebaikan dan keberkahan, bukan hanya terfokus pada aspek materi.
Simak selengkapnya Kajian Hawamisy di sini https://www.youtube.com/live/S3Ny_pc5bGI?si=oikOnp1pQt6mvzDb (ZAHRA/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.