Oleh: Drs. KH. Muhasyim Abdul Majid, M.Ag
Jakarta, www.istiqlal.or.id – Para hadirin yang mulia, pada pertemuan yang lalu saya diamanatkan untuk menyampaikan sedikit masalah yang berkaitan dengan Ulumul Qur’an. Dalam hal ini, saya ingin sedikit menyampaikan bahwa dalam Al-Qur’an itu ada istilah ilmu tajwid dan istilah qiraat. Ada istilah yang namanya ilmu tentang penulisan Al-Qur’an, dan sedikit saja tentang masalah yang berkaitan dengan penulisan Al-Qur’an. Di dalam ilmu Ulumul Qur’an, disebut sebagai ilmu rasm namanya rasm Utsmani. Ilmu tentang penulisan Al-Qur’an dimulai sejak diutusnya Khalifah Utsman bin Affan. Sebelumnya, Al-Qur’an itu tidak tertulis dan berserakan, sehingga banyak masyarakat yang bingung pada waktu itu dan banyak yang kemudian senantiasa terjadi khilaf.
Pada waktu yang pertama kali itu, pernah terjadi satu khilaf tentang masalah Al-Qur’an, sehingga sampai bunuh-membunuh, yaitu pada saat khalifah yang pertama, yaitu Khalifah Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu ‘Anhu. Itu sampai kurang lebih 70 tabi’in wafat dalam keadaan jihad kepada Allah. Masya Allah. Itu umat terdahulu sudah terjadi seperti itu. Tapi kalau zaman sekarang, banyak orang bertempur dan terjadi masalah khilaf biasanya urusannya tidak jelas. Tapi kalau di masa-masa lalu, urusannya sangat jelas, yaitu masalah perselisihan tentang Al-Qur’an. Akhirnya, Al-Qur’an itu diusulkan oleh Khalifah Umar bin Khattab agar ditulis.
Pada waktu itu, sahabat Abu Bakar As-Siddiq tidak serta-merta langsung menerima begitu saja karena tidak pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Al-Qur’an pada waktu itu masih ditulis di pelepah-pelepah kurma, di batu-batuan, dihafal, dan sebagainya, tetapi tidak tertulis. Sahabat Abu Bakar As-Siddiq khawatir akan melakukan sesuatu yang dalam istilah zaman sekarang disebut sebagai sesuatu yang tidak ada asal-usulnya. Namun, sahabat Umar bin Khattab mengusulkan dengan sangat gencar karena khawatir jika tidak ditulis, generasi masa depan tidak bisa membaca Al-Qur’an ketika para penghafal Al-Qur’an wafat.
Akhirnya, dengan izin Allah, atas usulan Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu ‘Anhu menerimanya. Dan yang pertama kali itu, Al-Qur’an ditulis. Sebelumnya tidak jelas, hanya berupa hafalan dari para sahabat. Namun, para sahabat pada waktu itu banyak yang wafat. Sebanyak 70 tabi’in wafat pada zaman Khalifah Abu Bakar As-Siddiq. Khalifah Umar bin Khattab khawatir jika tidak ditulis, maka generasi berikutnya tidak bisa membaca Al-Qur’an. Akhirnya diterima oleh Khalifah Abu Bakar As-Siddiq Radhiallahu ‘Anhu.
Pada waktu itu, penulisannya belum kompleks. Yang penting bunyinya ditulis. Tulisan itu kemudian disimpan oleh sahabat Abu Bakar As-Siddiq pada istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Setelah itu, sahabat Umar bin Khattab merasa tenang dan merasa telah berjasa, Insya Allah. Mudah-mudahan di masa depan Al-Qur’an tetap bisa dibaca karena sudah ditulis.
Namun, terjadi khilaf lagi pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Masalah khilaf tersebut hampir menyebabkan peperangan. Namun, sahabat Utsman bin Affan segera menanggapi berita tersebut dan mengumpulkan para sahabat untuk menulis ulang Al-Qur’an yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Ada yang mengatakan lima, enam, atau tujuh mushaf yang ditulis. Semuanya disimpan oleh para sahabat pada istri-istri Rasulullah dan pembesar-pembesar pada waktu itu.
Setelah ditulis, tidak hanya sekadar tulisan. Ada kode-kode penulisan Al-Qur’an yang mulai teratur pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Setelah itu, muncul kaidah penulisan Al-Qur’an yang disebut rasm Utsmani. Sebelumnya, penulisannya masih bebas, yang penting tertulis. Alhamdulillah, setelah zaman sahabat Utsman bin Affan, penulisan Al-Qur’an menjadi lebih teratur.
Dalam penulisan Al-Qur’an terdapat kaidah-kaidah, di antaranya; Al-Hadzf yaitu Penghapusan huruf, seperti alif, waw, dan ya. Lalu Al-Badal atau penggantian huruf tertentu, Al-Hamzah berarti penulisan hamzah sesuai aturan. Dan terakhir, Al-Wasl wal-Fasl yaitu kaidah penyambungan dan pemisahan kata. Penulisan mushaf Al-Qur’an mengikuti kaidah rasm Utsmani. Mushaf-mushaf di sini ditulis berdasarkan kaidah tersebut.
Nah, di situ mulai lebih rumit lagi. Kalau ingin mengetahui betul, harus belajar Al-Qur’an terus-menerus. Mudah-mudahan, lama-lama kita akan menambah ilmu. Itulah merupakan satu kajian yang saya sampaikan. Insyaallah, mudah-mudahan masih ada kaitannya, nyambung terus.
Karena penulisan Al-Qur’an itu terdiri dari 30 juz, 114 surat, berapa ayat, berapa ribu kalimat, dan sebagainya. Itulah makanya, mudah-mudahan kita akan senantiasa diberikan ilmu oleh Allah dan senantiasa terbuka hatinya untuk menerima ilmu dari Allah. Ya, inilah yang disebut ilmu rasm, ilmu penulisan.
Jadi, mushaf-mushaf yang ada di sini, semuanya itu kalau Bapak/Ibu sekalian lihat, ada kalimat atau kata-kata di depannya, yaitu rasm Utsmani tentang penulisan oleh sahabat Utsman bin Affan. Itulah, insyaallah nanti berikutnya mudah-mudahan kita sampaikan lagi. Walaupun sedikit, minimal akan dibawa ke mana-mana dan masih diingat. Nah, itulah yang namanya ilmu yang berkah dan bermanfaat. Kurang lebihnya mohon maaf. Insyaallah, Allahuakum ajmain. Mohon maaf lahir batin. Insyaallah, kita akan sambung lagi. (FIKRIANA/HUMAS DAN MEDIA MASJID ISTIQLAL)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.