Oleh: Dr.K.H. Mukhlis M. Hanafi, MA
Dr.K.H. Mukhlis M. Hanafi, MA menegaskan pentingnya memaknai umur sebagai kualitas kehidupan, bukan sekedar bertambahnya angka usia, dalam kajian bulanan bertajuk “Antara Angka dan Makna: Membaca Umur dari Perspektif Al-Qur’an” yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal.
Dalam Kajiannya, K.H. Mukhlis menjelaskan bahwa pergantian tahun seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai bertambahnya usia secara kronologis, tetapi juga menjadi momentum refleksi terhadap bagaimana umur dijalani dan diisi. Menurutnya, Al-Qur’an membedakan secara tegas antara konsep usia dan umur dijalani dan di isi.
Menurutnya, Al Qur’an membedakan secara tegas antara konsep usia dan umur yang sering kali disamakan dalam penggunaan sehari-hari.
۞ اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَّشَيْبَةًۗ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۚ وَهُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
Artinya: “Allah adalah Zat yang menciptakanmu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan(-mu) kuat setelah keadaan lemah. Lalu, Dia menjadikan(-mu) lemah (kembali) setelah keadaan kuat dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa,” (Qs: Ar-Rum 54).
“Usia adalah hitungan waktu sejak seseorang dilahirkan hingga ajal nya tiba. Sementara umur berkaitan dengan bagaimana kehidupan itu dijalani, dimaknai, dan dimanfaatkan,” ujarnya.
Al-Qur’an menyebut usia empat puluh tahun sebagai fase puncak kematangan manusia, baik secara fisik maupun intelektual.
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً
Artinya: “Hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai umur empat puluh tahun…,” (QS. Al-Aḥqāf: 15).
Menurut Dr. Mukhlis, fase ini seharusnya menjadi momentum refleksi untuk menata arah hidup, memperbanyak rasa syukur, serta meningkatkan kualitas amal dan kontribusi sosial.
Ia menjelaskan dalam bahasa arab, kata al umr memiliki makna keberlangsungan waktu sekaligus ketinggian dan kemakmuran. Hal ini menunjukkan bahwa umur bukan hanya tentang lamanya hidup, melainkan sejauh mana kehidupan tersebut diisi dengan amal, karya, dan manfaat bagi sesama.
وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ
Artinya: “Siapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami balik proses penciptaannya (dari kuat menuju lemah). Maka, apakah mereka tidak mengerti?” (Qs: Yasin: 68).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia akan mengalami kemunduran seiring bertambahnya usia. Ini yang harus disadari. “Maka jangan biarkan usia kita berlalu begitu saja. Tapi kita tidak makmurkan,” ujar K.H. Mukhlis. Makmurkan dalam dalam arti mengisi usia yang Allah SWT berikan dengan hal-hal yang bermanfaat.
Dr. Mukhlis mencontohkan sosok Imam An-Nawawi yang wafat pada usia 45 tahun, namun hingga kini pemikirannya terus hidup dan memberi manfaat bagi umat. “Usianya pendek, tetapi umurnya panjang karena karya dan ilmunya terus dikenang,” jelasnya.
lebih lanjut, ia menguraikan tahapan kehidupan manusia sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, yang dimulai dari kondisi lemah, kemudian mencapai puncak kekuatan, sebelum kembali melemah di usia lanjut. Puncak kematangan manusia, menurut Al-Qur’an, berada pada usia 40 tahun, fase di mana seseorang diharapkan mulai menata arah hidup, memperbanyak rasa syukur, dan mempersiapkan regenerasi.
حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً
“Usia adalah amanah. Setiap detik dan menit yang Allah berikan akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa panjang usia bukanlah tujuan utama kehidupan. Sebab, usia yang panjang tanpa diisi dengan kebaikan justru dapat menjadi penyesalan di akhirat. Sebaliknya, umur yang diberkahi adalah umur yang diisi dengan keimanan, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, silaturahmi, serta kontribusi nyata bagi kehidupan.
Menutup kajiannya, Dr. Mukhlis mengajak jemaah menjadikan awal tahun sebagai momentum memperbaiki kualitas hidup, bukan sekadar menghitung usia. “Mari kita makmurkan umur kita dengan kerja-kerja bernilai, agar kehidupan ini benar-benar bermakna dan diridai Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
(VISCHA/ HUMAS dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.