Oleh: KH. Abu Hurairah Abdul Salam, Lc, MA
Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kaum muslimin jama’ah shalat Jumat hafidzakumullah.
Kita kembali besyukur kepada Allah subhanahu wata'ala kita masih diberikan kesempatan oleh Allah disela-sela aktifitas dunia, kita diberikan taufiq untuk bisa melaksanakan ibadah shalat Jumat di Masjid Istiqlal masjid kebanggan bangsa Indonesia.
Kita bermohon kepada Allah semoga Allah subhanahu wata'ala menerima shalat dan rangkaian ibadah lainnya yang kita tunaikan sebagai ibadah yang kita ikhlaskan hanya kepada-Nya.
Al-Qur’an dan Al-Hadits memakai kata "alghuluw" untuk menggambarkan sikap melampaui batas dalam beragama. Berlebih-lebihan atau melampaui batas, merupakan hal yang dilarang dalam ajaran syariat Islam, terlebih lagi jika berlebih-lebihan yang dilakukan terkait dengan hal beragama.
Bahkan berlebih-lebihan dalam menjalankan agama itu bisa berbahaya, banyak dalil dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menunjukkan bahayanya sikap berlebih-lebihan dalam beragama. Syariat yang Allah turunkan kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam itu mudah dan tidak sulit. Allah telah mengangkat hal-hal yang memberatkan, sehingga Allah tidak memaksa seorang hamba kecuali sesuai kemampuannya. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 185, artinya sebagai berikut.
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu." (QS. Al Baqarah [2]: 185).
Ayat ini menekankan bahwa syariat yang Allah subhanahu wata'ala turunkan kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tujuannya tidak untuk menyulitkan kita tapi justru sebaliknya, Allah subhanahu wata'ala menjadikan ketetapan-Nya agar sesuai dengan kemampuan setiap orang. Allah berfirman dalam QS. Al Hajj: 78, artinya sebagai berikut.
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (QS. Al-Hajj: 78)
"Allah tidak akan menjadikan dalam agama suatu yang memberatkan dan menyusahkan."
Kalau kita kaji ayat-ayat Al-Qur’an, salah satu teguran yang paling keras yang Allah turunkan pada ummat terdahulu yaitu para ahli kitab, baik itu mereka yang beragama Yahudi ataupun Nasrani, salah satunya adalah teguran untuk tidak berlebih-lebihan dalam masalah agama:
"Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya." (QS. An-Nisa: 171)
.png)
Contoh Maksud dari Berlebih-lebihan dalam Beragama
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah.
Mungkin di antara kita ada yang bingung atau bertanya-tanya, bukankah kita diperintahkan untuk berpegang teguh kepada ajaran agama kita? Bukankah kita disuruh untuk membela habis-habisan agama kita? Tapi mengapa pada saat yang bersamaan justru kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam beragama. Pertanyaanya, kemudian apa sesungguhnya yang dimaksud dengan berlebih-lebihan dalam agama itu?
Secara bahasa "alghuluw" berarti melampaui batas atau hal-hal yang berlebihan. Dalam kitab tafsir: "Attahrir wat tanwir" atau yang lebih dikenal dengan "tafsir Ibnu Asyuur" dijelaskan bahwa "alghuluw" itu adalah melampaui batas dari yang sudah ditetapkan.
Sedang "alghuluw" dalam agama yaitu praktek keagamaan yang melampaui batas-batas yang sudah ditentukan oleh agama itu sendiri. Contoh sederhananya begini, Allah tidak wajibkan, tapi kita mewajib-wajibkan seolah-olah itu perintah Allah, padahal Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 286, artinya sebagai berikut.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 286)
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya.
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah.
Kalau orang tidak mampu terus dipaksa, maka itu justru melanggar kaidah agama kita, contoh sederhananya adalah:
Sebenarnya Allah tidak mengharamkan tetapi kita dengan rasa sombong, takabbur dengan perasaan bahwa itu katakanlah biar derajat kita tinggi di mata Allah, lalu apa yang Allah tidak haramkan pun kita malah mengharam-haramkannya seolaholah itu perintah Allah padahal tidak.
Jadi kriteria dari "alghuluw" itu ada dua, pertama mewajib-wajibkan apa yang tidak wajib, dan kedua mengharam-haramkan apa yang tidak haram. Hal inilah sesungguhnya yang terjadi pada Bani Israil sampai kemudian Nabi kita Muhammaad shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, dari Ibnu Abbas rodhiallohu anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallama bersabda:
"Jauhkan diri kalian dari berlebih-lebihan (ghuluw) dalam agama. Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian." (HR an-Nasa’i 5/268, Ibnu Majah no.3029, al-Baihaqi, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh al-Albani, Imam an-Nawawi dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)
Dalam hadits ini orang yang melampaui batas dalam beragama disebut juga dengan istilah "Al-Muthonattiun", maksudnya: Allah subhanahu wata'ala tidak sebegitunya meminta untuk beribadah tapi dia paksakan dirinya, bahkan dia wajibkan untuk dirinya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan dan menegaskan: celaka orang yang berlebih-lebihan, celaka orang yang berlebih-lebihan, celaka orang yang berlebih-lebihan, beliau ulang sampai tiga kali untuk menunjukkan betapa dilarangnya sikap berlebih-lebihan dalam beragama tersebut.
Jadi kita harus "tawazun" seimbang dalam mejalankan syariat agama ini, kalau yang wajib ya wajib karena memang diperintahkan oleh Allah, yang haram ya tidak boleh, tapi jangan sampai melampaui batas dan masuk dalam kriteria "alghuluw", yang wajib memang kita harus kerjakan, tapi kalau yang tidak wajib jangan kita wajib-wajibkan, yang haram tidak boleh kita kerjakan tapi yang Allah tidak haramkan, jangan pula kita haram-haramkan sebab Allah subhanahu wata'ala tidak mengharamkannya.
.png)
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah.
Ini yang pernah terjadi pada tiga orang sahabat nabi, yang diceritakan dalam sebuah hadits shahih, mereka ingin mengikuti atau katakanlah "ittiba" kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ibadah, lalu mereka bertiga berkata:
Kata mereka: Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal beliau sudah diampuni dosa yang telah lalu maupun yang akan datang. Begitulah pikiran yang ada di kepala para sahabat tersebut, kemudian salah seorang di antara mereka berkata:
Sahabat pertama berkata: Aku akan bertekad untuk berpuasa seterusnya tanpa berbuka.
Sahabat yang kedua berkata: Aku akan melakukan shalat malam seterusnya sepanjang malam dan selama-lamanya.
Kemudian sahabat yang ketiga berkata: Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.
Tiga orang sahabat yang diceritakan dalam hadits ini bertekad untuk melakukan sesungguhnya niatnya sangat baik, coba kita perhatikan: Apa yang keliru dari seseorang yang sepanjang malam bangun untuk shalat malam? Dan apa yang keliru dari seseoarang yang setiap hari berpuasa? Kemudian apa yang keliru dari seseorang yang setiap saat sibuk mengurusi agama dan meninggalkan hal-hal yang kira-kira itu sifatnya duniawi, yaitu meninggalkan kesenangan bersama pasangan
wanitanya?
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah.
Tapi ketika nabi mendengar dan mengetahui tiga orang sahabat memiliki tekad seperti itu, maka beliaupun menghalangi dan mencegah. Kalaupun nabi melakukan shalat tahajjud sepanjang malam sampai kakinya bengkak, kemudian beliau puasa kadang tiga hari berturut-turut tanpa sahur dan buka, itu urusan lain, buat ummatnya hal itu justru diharamkan.
Memang betul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menurut riwayat yang shahih tidak pernah meninggalkan sholat malam sampai kakinya bengkak.
Jadi kalaupun nabi itu tiap malam tahajjud itu adalah hal lain, buat ummatnya justru itu diharamkan. Harus dibagi, ada waktu untuk istrahat ada waktu untuk sholat malam, tidak boleh sepanjang malam full ibadah, itu justru tidak boleh dan diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Termasuk hidup membujang dalam syariat Islam hukumnya haram, bertekad tidak mau punya istri, itu tidak boleh bahkan haram dengan alasan kalau punya istri akan mengganggu waktunya untuk ibadah.
Meskipun sebenarnya tekad tiga orang sahabat yang dikisahkan dalam hadits ini bagus, karena mereka ingin dalam beragama itu habis-habisan atau totalitas akan tetapi totalitas yang model seperti ini malah dilarang dan tidak dibenarkan oleh nabi, sebab tubuh kita ini juga punya hak untuk istrahat.Oleh karena itu kita tidak boleh berlebih-lebihan dalam masalah agama, ada batas dan ada qadarnya.
.png)
Kaum muslimin jama’ah shalat Jum’at hafidzakumullah.
Dialog Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tiga orang sahabatnya sebagaimana yang dijelaskan, menunjukkan bahwa beribadah sekalipun, jika berlebihan juga tidak baik. Pokoknya segala sesuatu yang berlebihan atau bahasa agamanya "alghuluw" adalah tidak baik. Rasulullah bersabda:
"Wahai sekalian manusia. Kerjakanlah amalan-amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian bosan. Dan sungguh, amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR Bukhari dan Muslim).
Ukuran baik atau buruknya seseorang tidak diukur oleh berlebih-lebihannya seseorang dalam menjalankan ibadah, melainkan secara wajar, proporsional menjalankan keseimbangan di dalam hidupnya.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' no:3289).
Dalam Al-Qur'an surat al-Ma'un lebih tegas lagi, menyatakan bahwa orang-orang yang beragama secara "alghuluw", melampaui batas, kamuflase, berlebih-lebihan yaitu mereka yang tidak peduli dengan anak-anak yatim dan fakir miskin.
Bahkan sekalipun shalatnya rajin, tetap akan diancam api neraka jika shalatnya itu lalai, tidak fokus, didominasi oleh riya dan tidak peduli terhadap hal-hal yang membutuhkan perhatian.
Saksikan melalui YouTube Masjid Istiqlal TV https://www.youtube.com/watch?v=Tcd-AHe2lfk&t=1448s (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)
Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal
Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.