Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat: Al-wafa

Admin 11 Jan 2022 Warta Istiqlal

Oleh : KH. Bukhori Sail Attahiri, Lc, MA

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Jamaah Jum'at, marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah subhanahu wata'ala, menjalankan apa yang diperintah Allah subhanahu wata'ala dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

Khutbah kita kali ini mengambil tema Alwafa, akhlak seorang yang bertakwa. Dalam interaksi kita ada tiga pola yang dijelaskan Al-Quran dan dijelaskan oleh Rasulullah SAW, di antaranya habluminallahu, yaitu pola interaksi dengan Allah, kemudian ada habluminannas yaitu pola interaksi dengan manusia, dan juga pola interaksi dengan alam semesta.

Alwafa menurut kitab Att'rifat karya Al Jurjani memiliki definisi yaitu senantiasa menempuh jalan simpati serta menjaga untuk selalu melaksanakan janji-janji kita kepada siapapun, seperti kepada Allah SWT, sesama manusia, serta kepada semesta alam. Setiap manusia ia mempunyai kewajiban-kewajiban, punya tanggung jawab dan punya kepedulian, baik kaitannya hablumminallah maupun habllumminannas. Kewajiban atas beban kerja, kewajian menunaikan hak hak orang lain, ataupun yang sekedar kepedulian.

Dikisahkan seorang tentara yang baru saja melakukan peperangan melawan musuh, ia meminta izin kepada komandannya untuk mencari kawan setianya yang belum balik dari medan perang. Namun komandan tidak mengizinkannya sebab situasinya membahayakan, dan seorang tentara yang dia sebut itu kemungkinannya sudah gugur sehingga tidak kembali.

Namun sang tentara tidak mengindahkan perkataan komandannya, dan langsung kembali ke medan perang untuk kembali mencari kawan karibnya, maka ditemukanlah kawannya itu dalam keadaan terluka parah, lalu ia bopong menuju komandannya, namun belum sampai kepada sang komandan, kawannya sudah menghembuskan nafas terakhir dan komandan mengatakan, "bukankah sudah aku katakan kepadamu, percuma mencari kawanmu itu pasti ia sudah gugur," Lalu tentara itu mengatakan, "siap komandan, tadi saya melihat dia dalam keadaan terluka dan masih hidup dan ia mengatakan kepadaku, bahwa dia yakin aku akan mencarinya. Aku sangat bahagia mendengar kata-katanya sebelum ia gugur."

Peristiwa di atas adalah contoh sikap wafa yang merupakan perilaku suci dan mulia dalam kehidupan seseorang di tengah tengah masyarakatnya. Bahkan Islam menjadikan Wafa sebagai pondasi yang kokoh dalam kehidupan. Sebagaimana firman Allah dalam Qur'an surat al-Baqarah [2]: 40, artinya sebagai berikut.

Artinya: “Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja.” (QS. Al-Baqarah [2]: 40)

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Isra [17]: 34, artinya sebagai berikut.

Artinya: "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra [17]: 34)

Ayat-ayat ini mejelaskan tentang bagaimana kita harus memenuhi janji-janji itu kepada Allah SWT. Janji-janji dan kesepakatan suci kita kepada Allah SWT adalah untuk menyembah Allah swt dengan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.

Allah SWT berfirman dalam QS.Al-A'raf [17]: 172, artinya sebagai berikut.

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (QS.Al-A'raf [17]: 172).

Mari kita lihat diri kita, sampai dimana kita dalam menunaikan janji janji kita kepada Allah SWT? Apa yang telah kita lakukan? Apakah kita sudah menunaikan hak hak Allah kepada kita? Apa yang telah kita lakukan dalam memelihara akidah kita, iman kita serta kewajiban kewajiban kita; shalat kita, puasa kita, zakat kita, haji kita, serta ibadah ibadah lainnya yang sunah sunah yang menggabarkan ketaatan kita kepada Allah subhanahu wata'ala? Juga sejauhmana kita telah menjauhi larangan larangan Allahsubhanahu wata'ala.

Sudahkah kita memberikan hak hak kepada anggota keluarga kita, kepada masyarakat di sekitar kita? Semua itu akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hari qiamat. Dan Ketika sudah disana kita sudah tidak bisa beralasan lagi.

Alwafa juga merupakan sebuah komitmen sosial. Allah ta’ala juga berfirman:

Artinya: "Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil." (QS. Al-An'am [6]: 152)

Termasuk dalam kategori wafa adalah berbuat adil. Karena disana ada pemenuhan atas hak hak orang lain. Adil dalam menimbang dan menakar adalah wafa. Juga adil dalam menyampaikan amanat kepada ahlinya.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa [3]: 58,

Artinya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. An-Nisa [3]: 58)

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah SWT, Wafa sesama saudara muslim karena perjanjian atau kesepakatan mencakup pola interaksi, cinta dan kerja sama, dasarnya bukan karena kedekatan kekeluargaan, bukan fanatisme kesukuan, juga bukan karena kesamaan sekte, akan tetapi karena Iman dan takwa serta cinta kita kepada Allah subhanahu wata'ala. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala pada QS. Al-Hujurat [49]: 10,

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)

Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjelaskan QS. Al-Maidah [5]: 101 yang artinya; sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala mempunyai hamba-hamba selain para Nabi dan para syuhada, namun mereka mempunyai poisisi di sisi Allah sepeti para nabi dan para Syuhada.

Lalu para sahabat bertanya siapa mereka itu Ya Rasulullah? Dengan muka berseri seri Nabi menjawab: Mereka adalah hamba-hamba Allah yang berasal dari berbagai bangsa dan suku. Mereka saling mencintai bukan karena harta, bukan karena hubungan keluarga. Tetapi mereka saling mencinta karena Allah subhanahu wata'ala.

Maka Allah SWT berikan cahaya pada wajah-wajah mereka, mereka Allah SWT berikan mimbar-mimbar dari mutiara di depan umat-Nya, mereka tidak pernah cemas, mereka ditakuti orang-orang sedang mereka sendiri tidak punya rasa takut. Ini adalah buah dari sikap wafa, menunaikan hak hak orang kepadanya, memberikan pertolongan kepada yang mebutuhkan, saling mencintai dan kasih sayang dan mereka bersatu karena cintanya pada Allah subhanahu wata'ala.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, mari kita coba untuk memiliki sifat wafa ini, demi kesuksesan kita baik dalam hubungannya dengan sang Khaliq, maupun hubungannya dengan sesama manusia. Sukses beribadah dan sukses dalam kerja serta menjalani kehidupan dunia ini. (FAJR/Humas dan Media Masjid Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.