Foto: Dok. Media Istiqlal

Khutbah Jumat Masjid Istiqlal: Guru Pilar Utama Kemajuan Bangsa

Admin 01 Dec 2023 Warta Istiqlal

Oleh : Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA
(Guru Besar Universitas Ibnu Khaldun, Bogor)

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Khutbah Jum’at pada hari ini akan mengajak Anda yang budiman untuk mengingat kembali peran guru sebagai pilar utama bagi kemajuan bangsa. Tema ini penting kita pahami, hayati dan praktekan, dengan beberapa alasan sebagai berikut.

Pertama, bahwa saat ini bangsa Indonesia tengah menyongsong masa 100 tahun Indonesia merdeka yang dikenal dengan istilah Indonesia Emas. Pada saat itu Indonesia diharapkan sudah menjadi negara maju, yang menurut Presiden Joko Widodo, adalah bangsa berdaulat, maju, adil dan makmur. Untuk mendukung pelaksaan visi ini, Kementerian PPN/Bappenas telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang memuat 5 sasaran utama, 8 agenda pembangunan dan 17 arah pembangunan. (Lihat Panut Mulyono, Perguruan Tinggi dan Indonesia Emas 2045, dalam Kompas, Kamis, 26 Oktober 2013).

Guna mencapai visi tersebut maka diperlukan sumber daya manusia yang unggul yang dihasilkan melalui pendidikan yang di dalamnya terdapat guru yang unggul. Sonny B. Harman dalam tulisan, “Merealisasikan SDM Unggul” dalam Kompas Selasa 10 September, 2019, mengemukakan 5 ciri manusia yang unggul.

Pertama dilihat dari kemampuan berfikir atau intelegensianya yang tinggi, mampu memecahkan masalahmasalah yang berat dan rumit, sebagai akibat dari kualitas asupan gizi saat dalam kandungan, balita, kualitas pendidikan, dan kemampuan literasi;

Kedua, dilihat dari kekuatan fisik yang menggambarkan kondisi kesehatan seseorang yang dilukiskan dengan usia harapan hidup;

Ketiga, dilihat dari kesejahteraan individu yang diiukur dari kemampuan bekerja, pendapatan dan pemenuhan standard hidup tertentu;

Keempat, dilihat dari kualitas spiritualitas, kematangan emosi, sikap mental, perilaku dan sebagainya; dan

kelima, dilihat dari kemampuan mengenal dan mengembangkan potensi dirinya secara optimal, potensi untuk memimpin, mengembangkan kewirausahaan, memecahkan dan mengatasi masalah yang kompleks, melakukan inovasi, pengembangan kerjasama, dan sebagainya. Islam sangat mengutamakan SDM unggul. Allah subhanahu wata'ala mengingatkan kita agar jangan meninggalkan generasi yang lemah. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya : “Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya)” (QS. al-Nisa/4: 9).

Dalam Tafsir al-Maraghi, ucapan khaafu alaihim, maksudnya mengabaikan dan melalaikannya. Yakni tidak peduli pada pembinaan generasi yang unggul. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan: al-mukmin al-qowiyyu khairun wa ahabbullahi min min al-mukmin al-dhaifi: Seorang Muslim yang unggul lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah (HR.Muslim).

Kedua, bahwa untuk mewujudkan bangsa yang unggul itu, diperlukan pendidikan yang unggul, dan untuk menghasilkan pendidikan yang unggul diperlukan metode pengajaran, materi ajaran dan guru unggul; guru menjadi pilar utama dalam membangun manusia unggul untuk kemajuan suatu bangsa. Tentang peran guru sebagai pilar utama kemajuan bangsa melalui kiprahnya dalam pendidikan sudah lama dikenal di kalangan para kyai dan santri di pondok pesantren.

Hal ini antara lain terdapat dalam ungkapan: al-thariqah ahammu min al-maaddah; wa allmudarris ahammu min al-thariqah, wa ruh al-mudarris ahammu min al-mudarris binafsihi: Bahwa metode adalah lebih utama dari materi; sedangkan guru adalah lebih utama dari metode; dan ruh (panggilan) jiwa pengabdian seorang guru adalah lebih utama daripada guru itu sendiri. Ruh (panggilan) jiiwa pengabdian seorang guru antara lain terlihat bahwa menjadi guru adalah amanah, panggilan kemanusiaan yang harus dilaksanakan dengan rasa cinta dan tanggung jawab yang tinggi.

Imam al-Ghazali menekankan, bahwa seorang guru harus memiliki sifat kebapaan atau keibuaan, yakni panggilan kemanusiaan yang didasarkan pada rasa cinta, pengabdian dan taanggung jawab yang tinggi. Ia harus memiliki fassion (panggilan jiwa) bukan asal-asalan, atau bukan kerja sambilan. Mereka harus menggantikan peran ibu bapak yang memberikan amanah kepadanya. Mereka harus mengingat firman Alllah subhanahu wata'ala:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. al-Tahrim/66: 6).

Dalam Tafsir al-Maraghi, hendaknya sebagian atas sebagian lain saling membentengi diri dan mencegahnya dari api neraka; yaitu dengan mengikuti perintah Allah dan menjauhi laranganNya, dan hendaknya mengajarkan pada keluarga tentang perbuatan mentaati Allah dan menjaga dirinya dari api neraka, dan menyampaikan nasehat dan pendidikan budi pekerti kepadanya.

Agar seorang guru dapat menjadi pilar bagi kemajuan bangsa, maka perlu dilaksanakan beberapa hal sebagai berikut :

Pertama, melaksanakaan tugas dan fungsi guru yang utama. Sebagai tenaga profesional, di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 dikatakan bahwa selain memiliki kualifikasi pendidikan yang relevan, dan sertifikat sebagai guru, ia juga harus memiliki kompetensi pedagogik (keguruan), kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi akademik; sehat jasmani dan rohani serta cakap dalam melaksanakan tugas. Ajaran Islam amat menekankan pentingnya keahlian atau profesionalitas. Kita diperintahkan agar menyerahkan tugas kepada ahlinya. Allah subhanahu wata'ala berfirman :

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. al-Nisa/4: 58).

Dalam kitab-kitab tafsir, bahwa yang dimaksud dengan amanat pada ayat 58 surat al-Nisa (4) itu adalah amanah menjaga kunci ka’bah. Pada waktu Futuh Mekkah kunci Ka’bah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak diserahkan kepada keluarga, teman dekat, atau sahabatnya, tetapi diserahkan kepada Usman bin Thalhah, karena dialah yang memiliki kompetensi dan keahlian untuk mengerjakan tugas tersebut. Dan dalam kesempatan itu pula Nabi Muhamad shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam hadisnya: Idza wussida al-amru ila ghairi ahlihi fantadziri al-saata: Jika suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya maka tunggulah kehancuran (HR. Bukhari; dimuat dalam Al-Hasyimi Bek, Mukhtar al-Ahadits al-Nabaiyah, 1948;19).

Kedua, seorang guru profesional dan pilar kemajuan bangsa adalah sorang guru yang terus meng-update keilmuan dan keahliannya. Imam al-Ghazali pernah mengatakan, jika seorang guru sudah tidak lagi mau menambah ilmunya, maka hendaknya ia berhenti menjadi guru. Guru di masa sekarang adalah guru yang kreatif dan inovatif, selalu menemukan cara-cara baru agar pendidikan tidak berhenti.

Guru di masa merdeka belajar, harus merubah diri dari yang semula seperti masinis kretapi api, menjadi seperti nakhoda sebuah kapal. Seorang masinis kreta api akan menghentikan kreta apinya jika ada hambatan di depannya; sedangkan seorang nakhoda kapal akan terus memacu kapalnya jika di depannya ada hambatannya dengan cara membelokkan kapalnya ke kiri atau kenan, sehingga kapalnya terus berjalan. Konsep merdeka belajar mengandung maksud agar pendidikan tidak boleh terhenti.

Ketiga, guru profesional yang merupakan pilar kemajuan bangsa, adalah guru yang unggul. Pilihannya menjadi guru bukanlah pilihan terakhir karena tidak diterima menjadi profesi lain, seperti dokter, arsitek, ekonom, lawyer, dan sebagainya. Profesi guru harus diisi oleh orang-orang yang unggul dan cerdas. Agar profesi guru diisi oleh prang-orang yang unggul dan cerdas, maka profesi guru harus diusahakan menjadi profesi yang menarik, dengan cara meningkatkan kesejahteraannya sebagaimana yang didapat oleh profesi lainnya. Dari sumber sejarah Islam di zaman klasik (abad ke-7 sd 13 M.), kita memperoleh informasi bahwa Islam pada saat itu dapat mencapai kejayaan dan menjadi guru seluruh bangsa di dunia dalam bidang ilmu, kebudayaan dan peradaban karena kemajuan pendidikannya; dan kemajuan dalam bidang pendidikan ini terjadi karena ekonomi negara pada waktu itu dapat mensejahterakan para guru, ulama, dan cendekiawan. (Lihat Abuddin Nata, Sejarah Sosial Intelektual Pendidikan Islam dan Institusi Pendidikannya. (2012:78-79).

Keempat, agar guru dapat menjadi pilar kemajuan bangsa, maka para guru di masa sekarang, harus mampu menyiapkan anak didik untuk dapat bersaing baik secara mental, spiritual, kecerdasan dan keterampilan dalam menghadapi tantangan kehidupan era globalisasi, 4,0 yang ditandai oleh perkembangan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya yang amat cepat. Jika hal ini tidak dapat dihadapi, maka masyarakat akan mengalami disruption (kekacauan), disorientation (kesalahan arah), dan dislocation (kesalahan posisi). Guru di masa sekarang harus dapat memanfaatkan keberhakan dari teknologi informasi, teknologi digital, media sosial dan lain sebagainya. Namun demikian, ia tetap memelihara sesuatu yang tidak boleh hilang di pendidijkan, yaitu sentuhan kasih sayang, kemerdekaan berekpresi, suasana gembira, pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai spiritual, berpikir kritis, kreatif, inovatif dan kecerdasan sosial. Guru di masa sekarang juga harus menjadi harus menjadi guru yang hebat, yaitu guru yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu yang kuat di dalam diri para murid, sehingga mereka mau belajar tanpa disuruh. Selain itu, guru di masa sekarang juga adalah guru yang mampu merubah pemikiran dari yang statis yang disebut fixed mindset (FM), kepada pola berfikir yang berkebang yang disebut dengan growth mindset (GM); ia berani bermimpi-mimpi besar dan berupaya mewujudkannya.

Kelima, agar guru dapat menjadi pilar utama kemajuan bangsa Indonesia yang majemuk, maka guru harus berwawasan multikultural dan moderat. Pendidikan multikultural ini penting agar keberagaman yang ada di Indonesia menjadi rahmat dan berkah bagi kemajuan bangsa. Para guru harus dapat memasyarakatkan paham moderasi beragama yang mengedepankan toleransi antara sesama masyarakat yang memiliki perbedaan agama, suku, bahasa, budaya dan sebagainya. Para guru harus mengajarkan kepada para siswa, bahwa perbedaan dalam segala bidang adalah merupakan sunnatulah (ciptaan) Allah yang mengandung hikmah. Allah berfirman:

مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيْمَا فَرَضَ اللّٰهُ لَهٗ ۗسُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۗوَكَانَ اَمْرُ اللّٰهِ قَدَرًا مَّقْدُوْرًاۙ

Artinya : “Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunah Allah pada (nabi-nabi) yang telah terdahulu. Ketetapan Allah itu merupakan ketetapan yang pasti berlaku,” (QS. al-Ahzaab/33: 38).

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya : “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti” (QS. al-Hujurat/49: 13).

Dengan wawasan multikultural yang berbasis pada toleransi ini, maka akan dapat dicegah terjadinya tindakan kekerasan atau pemaksaan atas nama agama. Berbagai analisis yang dikemulakan mengatakan, bahwa agama dapat berubah menjadi bencana apabila:

1) mengklaim hanya paham agamanya saja sebagai satu-satunya kebenaran mutlak; 
2) ketaatan buta kepada pemimpin keagamaan; 
3) mulai gandrung pada zaman ideal dan bertekad merealisasikannya dengan segera; 
4) tujuan yang membenarkan cara dengan menggunakan dalildali agama secara gegabah; dan 
5) mengobarkan perang suci.

Selain itu, seorang guru juga harus menanamkan rasa kebersamaan dalam kehidupan. Pendidikan berarah baru harus menjamin solidaritas welas asih, etika dan simpati yang tertanam di desain kegiatan belajar. Sehubungan dengan itu, guru harus mengefektifkan pendidikan karakter dan akhlak mulia. Hubungan antara sekolah (guru), rumah (orang tua), dan masyarakat (tokoh agama) harus dibangun dengan erat. Orang tua berperan dalam bimbingan, latihan, dan praktek kehidupan beragama dan nilai-nilai akhlak mulia; sekolah memberikan penguatan pada pemahaman dan wawasan keagamaan; dan masyarakat, merupakan lingkungan yang kondusif, di mana para siswa dapat menimba pengalaman hidup yang baik. Pentingnya membangun hubungan tripartit antara sekolah, rumah dan masyarakat adalah hal yang penting dilakukan, karena dibutuhkan dalam pendidikan. Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya : “...Tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya” (QS. al-Maidah/5: 2).

Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'ala memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga kita dapat mengamalkan petunjuknya yang berkenaan dengan peran dan fungsi guru ini, demi terwujudnya kemajuan Indonesia yang diridhai Allah subhanahu wata'ala.

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.