Foto: Dok. Media Istiqlal

Jangan Sedih, Allah SWT Bersamamu

Admin 27 Jun 2023 Warta Istiqlal

Oleh: Ustadzah Halimah Alaydrus

Jakarta, www.istiqlal.or.id - Kesedihan adalah perasaan yang tidak menyenangkan dalam hati yang disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa penyebab kesedihan umumnya meliputi rasa kecewa karena sesuatu yang tidak kita inginkan, harapan yang tidak terpenuhi, ditinggalkan oleh orang yang kita cintai, atau bahkan kesedihan yang datang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Namun, apa penyebab sesungguhnya dari kesedihan ini?

Setiap yang menyebabkan kesedihan pasti memiliki obatnya masing-masing. Adapun dalam rangkuman kajian "Jangan Sedih, Allah Bersamamu" yang disampaikan oleh Ustazah Halimah Alaydrus ini, kita akan mempelajari empat penyebab kesedihan beserta obatnya.

1. Sedih Karena Dosa

Dosa yang secara sadar ataupun tidak adalah tetap perbuatan yang melanggar perintah Allah subhanahu wata'ala. Ketika hati kita dipenuhi dosa, hati menjadi sempit dan mudah kecewa, bahkan terhadap hal-hal yang seharusnya tidak membuat kita sedih.

Bahkan dosa yang kecil sekalipun dapat membuat hidup kita menjadi tidak menyenangkan. Maka obatnya, kita harus segera bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan senantiasa berusaha untuk menjauhi segala dosa di hidup ini.

Sebagai manusia yang seringkali berbuat salah dan dosa, bahkan tidak peduli sebesar apapun dosa yang dia lakukan, Allah subhanahu wata'ala akan tetap mengampuni hamba-Nya yang mau bertaubat. Seperti yang Allah subhanahu wata'ala gambarkan dalam hadits qudsi,

عن أنس رضي الله عنه یقول: (( قال الله تعالى: یا ابن آدم، إنك ما دعوتني قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم ورجوتني غفرت لك، على ما آان منك، ولا أبالي. یا ابن آدم، لو بلغت ذنوبك عنان السماء، ثم استغفرتني غفرت لك، یا ابن آدم، إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطایا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لأتيتك بقرابها مغفرة )) رواه الترمذي وقال: حدیث حسن صحيح

Dari Anas bin Malik radhiallahu‘anhu dia berkata: Aku mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Jadi, jika hatimu bersedih, gelisah, dan kecewa akibat dosa-dosa yang telah diperbuat, maka segeralah bertaubat kepada Allah subhanahu wata'ala dan jangan berputus asa dari rahmat Allah subhanahu wata'ala, karena kasih sayang-Nya begitu luas.

Allah subhanahu wata'ala akan selalu siap menerima taubat jika kita bertaubat dengan penuh keikhlasan.

Kemudian, jadilah kita seseorang yang menjauhi dosa-dosa dan berusahalah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata'ala. Karena dosa hanya akan memperburuk kondisi hati, meningkatkan kesedihan, kekecewaan, dan gelisah dalam hidup.

2. Kesedihan Karena Tidak Melibatkan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari

Tatkala kita sering melupakan Allah subhanahu wata'ala bahkan enggan hanya untuk mengingat-Nya, maka Dia akan timpakan dalam hidup kita hati yang sempit dan dipenuhi perasaan gelisah, menderita, dan kebingungan tanpa tahu penyebabnya. Itulah balasan bagi orang yang berpaling dari mengingat Allah subhanahu wata'ala, sebagaimana firman-Nya dalam QS Thaha ayat 124:

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

Artinya: “Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Ṭhaha [20]:124)

Dari ayat tersebut telah Allah subhanahu wata'ala peringatkan kepada kita semua untuk senantiasa mengingat dan jangan pernah berpaling dari-Nya.

Lupa kepada Allah subhanahu wata'ala sering kali menjadi awal dari kesedihan. Lalu, apa obatnya? Obatnya adalah mendekatkan diri kepada-Nya, mengingat Allah di dalam hati, dan merasakan kehadirannya dalam kehidupan kita.

Teruslah mengingat-Nya dalam hati, dan yakinkan bahwa Allah subhanahu wata'ala itu Allahu nadziri (Allah sedang melihat kita), Allahu syahidi (Allah sedang mengawasi kita), dan Allahu qaribun minni (Allah berada di dekat kita).

Allah subhanahu wata'ala senantiasa Qariib dan Dia tidak pernah menjauh.

Bahkan, Allah subhanahu wata'ala juga berfirman dalam surah Qaf ayat 16, bahwa Dia lebih dekat daripada urat nadi,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖوَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ

Artinya: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Q.S. Qaf [50]:16)

Maksud dari ayat tersebut ialah sebenarnya Allah subhanahu wata'ala ingin kita menyadari betapa dekatnya Dia dengan kita. Lalu mengapa kita masih menyia-nyiakan kedekatan yang seperti ini? Sampai kapan kita akan membuat hidup ini semakin menjauh dan lupa dengan-Nya?

Ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi saw.,

"Apakah Tuhan kami dekat, maka kami akan berbisik kepada-Nya, atau apakah Dia jauh, maka kami akan berseru kepada-Nya", maka turunlah ayat Allah subhanahu wa ta'ala dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 186:

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

Artinya: “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah  [2]:186)

Jadi, ketika ingin hidup tidak lagi diiringi banyak kesedihan, maka mulailah dengan mengingat Allah subhanahu wata'ala di setiap keadaan.

3. Kesedihan Karena Prasangka Tentang Hidup yang Tidak Ideal

Kita merasa bahwa hidup ini tidak menyenangkan dan keadaannya tidak bersahabat. Namun, perlu diingat bahwa hidup memang tidak pernah ideal bagi siapa pun. Kita tidak boleh berharap bahwa segala sesuatunya selalu akan terjadi sesuai dengan keinginan.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad SAW sebagai nabi yang sempurna, beliau tidak mengalami kehidupan yang ideal dan hidupnya di dunia ini tidak sempurna, bahkan beliau SAW juga menghadapi banyak cobaan dan kesedihan dalam hidupnya.

Ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan, beliau tidak pernah mengenal ayahnya. Adapun saat berusia 6 tahun, ibunya meninggal dunia, dan 2 tahun kemudian, kakeknya juga meninggal.

Beliau menikah dengan Sayyidah Khadijah RA, seorang perempuan yang sangat dicintainya, namun Sayyidah Khadijah juga meninggal dunia.

Nabi Muhammad SAW memiliki tujuh orang anak, namun pada saat beliau meninggal dunia di usia 63 tahun, hanya tersisa satu orang putri yang masih hidup. Bahkan, beliau sendiri yang menguburkan satu per satu dari anak-anaknya.

Beliau juga pernah diusir dari negerinya dan disakiti oleh orang-orang. Dalam hidupnya, beliau tidak mengalami kesempurnaan yang kita bayangkan.

Jadi, jika hidupmu sedang dihadapkan dengan ujian-ujian dan hal-hal yang tidak menyenangkan, seperti dibenci atau disakiti orang lain, itu adalah hal  wajar dalam kehidupan.

Dunia ini adalah tempat sementara yang akan berakhir, sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal. Di dunia ini, ada kesulitan, ada sakit, namun di akhirat tidak ada kesulitan.

Oleh karena itu, setiap kali kita merasa sakit, sulit, atau hidup ini dirasa tidak ideal, ingatlah bahwa Allah subhanahu wata'ala memberikan ujian tersebut agar kita ingat surga dan merindukan akhirat.

4. Kesedihan Karena Emosi Negatif di Dalam Diri

Ketika mengingat masa lalu, mungkin terdapat emosi-emosi buruk yang tidak terkeluarkan. Semua emosi negatif yang tidak tersalurkan tersebut menumpuk dan menjadi beban sehingga mudah terkeluarkan meski ketika kehidupan yang dijalani sedang baik-baik saja. Lantas, apa obatnya untuk mengatasi kesedihan itu?

Obatnya adalah dengan membersihkan hati. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan menangis. Dalam Islam, Allah subhanahu wata'ala tidak melarang kita untuk menangis, bahkan kita dianjurkan untuk menangis banyak-banyak. Kenapa?

Karena tangisan kita bisa menjadi ungkapan rindu kepada Allah subhanahu wata'ala.

Ketika kita menangis dengan ikhlas, tangisan tersebut dapat membersihkan hati kita. Tangisan tersebut adalah bentuk taubat kepada Allah subhanahu wata'ala, ungkapan syukur kepada-Nya, serta sebagai wujud rindu kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Allah subhanahu wata'ala mengizinkan kita menangis karena Dia mencintai kita. Tangisan tersebut adalah sarana untuk membersihkan hati dan menciptakan ruang di dalam hati kita agar Allah berkenan hadir di dalamnya. Oleh karena itu, perlu adanya upaya membersihkan hati dari emosi negatif tersebut.

Bagaimana cara membersihkan hati? Salah satunya adalah dengan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sholawat dapat membuat hati lapang dan riang. Seseorang yang banyak bershalawat akan diangkat gelisahnya dan semua beban hatinya akan diampuni. Oleh karena itu, sholawat kepada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu obat untuk menghilangkan kesedihan dan beban hati. (ZSQ/Humas dan Media Istiqlal)

Dapatkan informasi seputar masjid istiqlal

Ikuti channel kami di WhatsApp untuk update kegiatan, pengumuman, dan informasi penting.

Punya Pertanyaan Seputar Islam?

Sampaikan keraguan Anda kepada tim Fatwa Center Masjid Istiqlal untuk mendapatkan penjelasan berbasis dalil yang menenangkan hati.